Jengah rasanya bila mendengar omongan orang tentang wanita yang memilih menjadi Ibu rumah Tangga atau Full Time Mother. Misalnya bila ada yang tanya, "kerja apa?" "di rumah saja" "ooh.. cuma ibu rumah tangga ya toh". Padahal Ibu rumah tangga itu bukan sekedar "cuma". Mari kita tengok Bu Cholifah Nurdin, beliau pernah menjabat sebagai Bu RW di lingkungan rumahku, sekarang sebagai Ketua Majlis Taklim RW. Beliau memang hanya seorang ibu rumah tangga, namun kesibukannya bisa dibilang melebihi wanita karier sekalipun. Diluar tugasnya sebagai ibu rumah tangga yakni mengerjakan semua urusan domestik rumah tangga dan mengurus suami juga seorang anak perempuan yang sudah remaja, Bu Nurdin adalah seorang aktivis lingkungan, begitu sebutan saya.
Dalam kehidupan bertetangga sudah tentu ada bermacam kegiatan yang perlu dilakukan meski kelihatannya remeh-temeh. Misalnya saja kegiatan arisan dan pengajian tingkat RT, RW hingga Kelurahan. Kebetulan saya tinggal di perumahan yang kebanyakan ibu-ibu disana adalah wanita karir, kalaupun ada ibu rumah tangga juga belum tentu mau mengurusi hal-hal merepotkan. Jadilah Bu Nurdin dibantu 2-3 ibu lainnya mengurusi kegiatan-kegiatan itu. Menyusun Program PKK, Menyusun undangan rapat, menyebarkan undangan, menyiapkan konsumsi, hingga pelaksana acara. Suatu kali, RW kami kebagian tugas sebagai pengisi acara kegiatan pengajian tingkat kelurahan yang dihadiri Bapak Lurah dan utusan 29 RW yang berada di wilayah kelurahan kami. Sontak saja Bu Nurdin kebingungan. Pasalnya, setiap kali ada undangan kegiatan pengajian bulanan di Kelurahan utusan dari RW kami tidak pernah lebih dari dua orang, yaitu Bu Nurdin ditemani salah satu ibu-ibu lainnya (termasuk saya bila tidak ada kegiatan lain). Sementara RW lain mengirim utusan setidaknya 5-10 orang. Nah, ketika ditunjuk menjadi pengisi acara maka kami harus menyiapkan minimal 20 ibu-ibu yang bertugas sebagai MC, pembaca Qur'an, dll. JAdilah Bu Nurdin sebagai pihak yang paling repot dalam hal ini. Berinisiatif menemui sejumlah ibu-ibu untuk diajak berpartisipasi dalam acara ini, demi membawa nama baik RW kami. Syukurlah semua usaha beliau mendapat hasil yang baik dan acara pun berjalan dengan lancar.
Jadi, sungguh ibu-ibu aktivis lingkungan itu bukanlah ibu rumah tangga biasa. Merekalah yang telah sedemikian rupa menghidupkan organisasi di lingkungan rumah kita, yang berupaya menjaga jalinan silaturahim diantara para tetangga. Mereka juga yang sudah susah payah menyiapkan kegiatan Posyandu bagi anak-anak balita kita. Merekalah yang telah menjalankan sebagian dari Program Pemerintah seperti pemberantasan Demam berdarah, RW Siaga, dan Lain-lain. Bu Nurdin adalah salah satu potret Kartini masa kini yang menjalankan kodratnya sebagai seorang wanita dengan menjadi seorang ibu rumah tangga namun juga mampu meng-aktualisasikan kemampuan dirinya dengan segenap aktivitasnya di lingkungan rumah, bermanfaat bagi sesama.
2012-05-02
Bukan Ibu Rumah Tangga Biasa
2012-03-22
Seminar Hypnoparenting [bagian 2]
Mohon maaf kalau nulisnya gak runut, ini dikarenakan factor U (usia) yang perlu inget-inget dulu baru nulis (otak kanannya agak lemot) :)
Ada 3 tipe orang tua
1. Tipe orang tua bermasalah, punya masalah untuk dikonsultasikan
2. Orang tua yang mau belajar. Mau mencari tahu ilmu mengasuh anak
3. Orang tua yang maunya beres. Menyerahkan segala
urusan pengasuhan anak kepada guru ataupun konsultan anak atau siapa yang dibayar
Tips agar anak minat membaca :
Mendongeng sembari memegang buku meskipun buku tersebut
bukan buku cerita (untuk anak yang belum bisa baca) dengan ekspresi dan intonasi yang menarik. curhat : Saya pernah melakukan ini dengan kedua anak saya Syahdu (4th) dan Nada (2th). Sebenarnya saya cuma coba-coba saja, tapi hasilnya sungguh diluar dugaan, padahal tadinya sempat gak pede karna ga pernah ngedongeng sebelumnya. Jadi saya menceritakan mengenai kisah yang terjadi pada Tahun Gajah, eh ga disangka Syahdu dan Nada amat tertarik sehingga mereka berlomba menghadapkan mukanya ke muka saya untuk melihat ekspresi muka saya dengan jelas, melihat ekspresi mereka yang antusias seperti itu sambil berebut bertanya saya malah jadi gak bisa nerusin cerita karena menahan tawa.
Usia dimana anak paling mudah menyerap informasi adalah 1-2
tahun. Contohnya pada usia inilah anak sudah mulai berbicara dan berbahasa
tanpa ada yang mengajari dalam waktu beberapa bulan saja sudah bisa mengucapkan
banyak kosakata. Sebenarnya bayi usia 3 bulan pun dapat diajari bahasa isyarat
yang disesuaikan dengan keinginan kita (ditampilkan video seorang ibu yang
berinteraksi dengan bayinya menggunakan bahasa isyarat yang sudah diajarkan
sebelumnya). Misalnya bahasa isyarat untuk lapar, haus, apel, susu, main dll. Biasanya
kita hanya mengajarkan tepuk tangan, cium jauh dan salaman saja, padahal bisa
lebih dari itu. curhat :Pengalaman saya, sebenarnya ga sengaja juga, menuliskan
huruf-huruf abjad secara acak untuk dihapal Syahdu sewaktu berusia sekitar satu
tahun. Misalnya A untuk Ayah, B untuk Bunda dan seterusnya. Ternyata lama
kelamaan dia bisa menghapal ABJAD besar dan kecil pada usia 2 th. Sedangkan adiknya
baru di usia 2 tahun ini baru memiliki minat seperti itu. Hasilnya sungguh
diluar bayangan. Jadi, ini sebenarnya kemauan orang tua (ibu khususnya) untuk
mau mengajarkan itu pada anaknya, sambil bermain tentunya tanpa paksaan.
Tips komunikasi sehari-hari:
1. Saat anak disuruh mandi sore sementara dia masih
asyik nonton TV. Kebanyakan ibu berperang dengan anak soal ini. “adi..ayo mandi
sudah sore nih” anaknya bilang “nanti bu..belum selesai filmnya” ibunya akan dating
marah sama anaknya bisa juga menyeret paksa anaknya sehingga anaknya mandi
sambil menangis bahkan berteriak-teriak “aku gak mau mandi..ibu jahat!” dan
sore itu pun menjadi sore kelabu. Sebaiknya ketika anak bilang nanti, ibu
berkata “oh, kamu sedang nonton ya, masih lama acaranya?” kalau sepuluh menit
lagi selesai sebaiknya ditunggu saja “baiklah, setelah filmnya selesai, adi
langsung mandi ya?” atau “kalau sedang iklan, mandi dulu ya nanti boleh dilanjutkan
lagi nontonnya” insyaAllah anak akan menjawab “iya bu” dan melakukan yang kita
inginkan. Peperangan sore itu pun terhindari. Hal ini juga telah saya
praktekkan sebelumnya, dan berhasil. Kita memang harus bersabar dan toleran.
2. Setelah sepuluh menit dan film selesai maka
ingatkan anak “tadi kan kita sudah berjanji kalau filmnya selesai adi akan
mandi, ayo mandi SEKARANG” maka anak akan menurut.
3. Kemudian saat anak misalnya memecahkan gelas dan
kita ingin tahu siapa yang memecahkan gelas atau bagaimana itu terjadi. Karena emosi
atau tidak sabar seorang ayah berusaha bertanya dengan mengancam “siapa yang
memecahkan gelas? Awas ya kalau bohong nanti ayah cubit” reaksi anak pasti
takut dan berusaha mengarang cerita supaya tidakdimarahi, alhasil ia belajar
berbohong. Sebaiknya “wah gelasnya pecah ya, kapan pecahnya?” “tadi yah” “memangnya
kamu sedang apa, kok bisa pecah gelasnya?” “oh,tadi aku lagi lari terus ga
sengaja nyenggol gelasnya yah” “oh begitu, lain kali hati-hati ya.. pelan-pelan
saja larinya kan bahaya kalau pecahan gelas itu kena tanganmu” anak jadi berani
belajar bicara jujur dan kita mendapatkan informasi yang diinginkan. Dalam bertanya
pada anak hindari kata Tanya “Mengapa” karena bisa memancing anak berbohong,
gunakan kata Tanya lainnya seperti kapan, dimana, apa, bagaimana, siapa.
4. Anak-anak usia 2-7 tahun adalah usia yang memiliki rasa ingin tahu besar. Seringkali
kita merasa terganggu dengan anak bertany pertanyaan mereka disaat sedang sibuk
mengetik atau lainnya. Seperti adi dengan ayahnya, adi sedang menyusun mainan
baloknya sementara ayah sedang sibuk mengetik. “yah bantuin aku dong, susah nih
pasangnya” sembari meneruskan mengetik ayah bertanya “apa yang susah nak” anak
menjawab sambil terus bermain”ini balok yang ini yah” ayah masih mengetik ”oh..memangnya
kamu mau bikin apa?” lalu anak akan menjawab panjang lebar “aku mau bikin istana
…….” “oh ya kamu kan anak hebat, pasti kamu bisa sendiri bikinnya, coba bikin
deh pasti bagus” dan ayah bisa terus melanjutkan pekerjaannya. Dibanding ayah
menggerutu “duh..tunggu ya, ayah lagi sibuk nih, kamu bikin sendiri aja deh”
nanti anak akan terus merajuk dan mengganggu ayah yang sedang sibuk. Kejadian seperti
ini sering juga saya alami. Cuma masalahnya yang mengganggu gak cuma satu tapi
dua jadi tetep aja terganggu hehehe, mesti konsultasi lagi
Tempertantrum pada anak
Tempertantrum adalah ledakan kemarahan yang terjadi secara tiba-tiba tanpa terencana. Baik itu menangis keras-keras, berteriak, menjerit, menggigit, dll. Biasanya terjadi pada anak usia 1-4 tahun. Lama tantrum biasanya 30 detik – 2 menit saja. Tapi bila lebih dari itu dan melakukan hal-hal yang bisa membahayakan dirinya atau orang di sekitarnya maka ini menjadi hal yang serius.
Yang menjadi pemicu :
1. Frustasi. Mereka merasa gagal mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
2. Lelah. Aktivitas yang padat dan kurang waktu bermain.
3. Orang tua terlalu mengekang. Ia merasa jenuh dengan orang tua yang banyak mengatur dan melarang keinginannya.
4. Sifat dasar emosional. Mewarisi sifat dasar orang tua. Tidak sabaran, gampang marah.
5. Keinginan tak dipenuhi. Ini bila orang tua suka mengiming-imingi anak dengan sesuatu seperti es krim atau permen namun tidak memberikannya hanya sekedar rayuan saja.
Cara mengatasinya :
1. cari tau penyebabnya
2. Jangan ikut emosi. Melihat anak mengamuk sebaiknya kita tidak mencubit, menghardik bahkan memukul karena hanya memperparah kondisi, anak akan semakin mengamuk. Sebaiknya tenangkan diri dan berkata dengan lembut
3. Abaikan anak dan ajari ia mengatasi kemarahannya. Jangan turuti semua keinginannya saat itu juga. Bersikap cuek dan tidak memedulikan kemarahannya sehingga ia tahu bahwa marah bukan cara agar keinginannya dapat terpenuhi. Katakan padanya bahwa hanya anak yang menyampaikan keinginan dengan cara yang baik yang akan terpenuhi keinginannya. Sikap tegas dan konsistensi kita akan membuatnya disiplin.
4. Sudut diam. Bukan berarti mengurung anak di
kamar mandi atau gudang. Tapi tempatkan dia di sebuah kursi yang disebut kursi diam. Saat dia mengamuk maka dudukkan ia disana sampai ia dapat menenangkan dirinya. Boleh juga meminta
anak untuk masuk kekamar hingga ia bisa tenang. Setelah tenang baru ia boleh menyapa anda. curhat:Sebenarnya saya tidak terlalu mempraktekkan, tapi Syahdu selalu masuk kamar dan mojok kalau dia marah dan saya abaikan.
Normalnya memasuki usia 5 tahun setelah anak bergaul dan bersekolah maka
emosi mereka akan mereda. Jika di masa ini belum ada perubahan maka kita perlu
konsultasi pada yang ahli.
sumber : makalah seminar hypnoparenting
email narasumber : andimaipa@gmail.com
Ada 3 tipe orang tua
1. Tipe orang tua bermasalah, punya masalah untuk dikonsultasikan
2. Orang tua yang mau belajar. Mau mencari tahu ilmu mengasuh anak
3. Orang tua yang maunya beres. Menyerahkan segala
urusan pengasuhan anak kepada guru ataupun konsultan anak atau siapa yang dibayar
Tips agar anak minat membaca :
Mendongeng sembari memegang buku meskipun buku tersebut
bukan buku cerita (untuk anak yang belum bisa baca) dengan ekspresi dan intonasi yang menarik. curhat : Saya pernah melakukan ini dengan kedua anak saya Syahdu (4th) dan Nada (2th). Sebenarnya saya cuma coba-coba saja, tapi hasilnya sungguh diluar dugaan, padahal tadinya sempat gak pede karna ga pernah ngedongeng sebelumnya. Jadi saya menceritakan mengenai kisah yang terjadi pada Tahun Gajah, eh ga disangka Syahdu dan Nada amat tertarik sehingga mereka berlomba menghadapkan mukanya ke muka saya untuk melihat ekspresi muka saya dengan jelas, melihat ekspresi mereka yang antusias seperti itu sambil berebut bertanya saya malah jadi gak bisa nerusin cerita karena menahan tawa.
Usia dimana anak paling mudah menyerap informasi adalah 1-2
tahun. Contohnya pada usia inilah anak sudah mulai berbicara dan berbahasa
tanpa ada yang mengajari dalam waktu beberapa bulan saja sudah bisa mengucapkan
banyak kosakata. Sebenarnya bayi usia 3 bulan pun dapat diajari bahasa isyarat
yang disesuaikan dengan keinginan kita (ditampilkan video seorang ibu yang
berinteraksi dengan bayinya menggunakan bahasa isyarat yang sudah diajarkan
sebelumnya). Misalnya bahasa isyarat untuk lapar, haus, apel, susu, main dll. Biasanya
kita hanya mengajarkan tepuk tangan, cium jauh dan salaman saja, padahal bisa
lebih dari itu. curhat :Pengalaman saya, sebenarnya ga sengaja juga, menuliskan
huruf-huruf abjad secara acak untuk dihapal Syahdu sewaktu berusia sekitar satu
tahun. Misalnya A untuk Ayah, B untuk Bunda dan seterusnya. Ternyata lama
kelamaan dia bisa menghapal ABJAD besar dan kecil pada usia 2 th. Sedangkan adiknya
baru di usia 2 tahun ini baru memiliki minat seperti itu. Hasilnya sungguh
diluar bayangan. Jadi, ini sebenarnya kemauan orang tua (ibu khususnya) untuk
mau mengajarkan itu pada anaknya, sambil bermain tentunya tanpa paksaan.
Tips komunikasi sehari-hari:
1. Saat anak disuruh mandi sore sementara dia masih
asyik nonton TV. Kebanyakan ibu berperang dengan anak soal ini. “adi..ayo mandi
sudah sore nih” anaknya bilang “nanti bu..belum selesai filmnya” ibunya akan dating
marah sama anaknya bisa juga menyeret paksa anaknya sehingga anaknya mandi
sambil menangis bahkan berteriak-teriak “aku gak mau mandi..ibu jahat!” dan
sore itu pun menjadi sore kelabu. Sebaiknya ketika anak bilang nanti, ibu
berkata “oh, kamu sedang nonton ya, masih lama acaranya?” kalau sepuluh menit
lagi selesai sebaiknya ditunggu saja “baiklah, setelah filmnya selesai, adi
langsung mandi ya?” atau “kalau sedang iklan, mandi dulu ya nanti boleh dilanjutkan
lagi nontonnya” insyaAllah anak akan menjawab “iya bu” dan melakukan yang kita
inginkan. Peperangan sore itu pun terhindari. Hal ini juga telah saya
praktekkan sebelumnya, dan berhasil. Kita memang harus bersabar dan toleran.
2. Setelah sepuluh menit dan film selesai maka
ingatkan anak “tadi kan kita sudah berjanji kalau filmnya selesai adi akan
mandi, ayo mandi SEKARANG” maka anak akan menurut.
3. Kemudian saat anak misalnya memecahkan gelas dan
kita ingin tahu siapa yang memecahkan gelas atau bagaimana itu terjadi. Karena emosi
atau tidak sabar seorang ayah berusaha bertanya dengan mengancam “siapa yang
memecahkan gelas? Awas ya kalau bohong nanti ayah cubit” reaksi anak pasti
takut dan berusaha mengarang cerita supaya tidakdimarahi, alhasil ia belajar
berbohong. Sebaiknya “wah gelasnya pecah ya, kapan pecahnya?” “tadi yah” “memangnya
kamu sedang apa, kok bisa pecah gelasnya?” “oh,tadi aku lagi lari terus ga
sengaja nyenggol gelasnya yah” “oh begitu, lain kali hati-hati ya.. pelan-pelan
saja larinya kan bahaya kalau pecahan gelas itu kena tanganmu” anak jadi berani
belajar bicara jujur dan kita mendapatkan informasi yang diinginkan. Dalam bertanya
pada anak hindari kata Tanya “Mengapa” karena bisa memancing anak berbohong,
gunakan kata Tanya lainnya seperti kapan, dimana, apa, bagaimana, siapa.
4. Anak-anak usia 2-7 tahun adalah usia yang memiliki rasa ingin tahu besar. Seringkali
kita merasa terganggu dengan anak bertany pertanyaan mereka disaat sedang sibuk
mengetik atau lainnya. Seperti adi dengan ayahnya, adi sedang menyusun mainan
baloknya sementara ayah sedang sibuk mengetik. “yah bantuin aku dong, susah nih
pasangnya” sembari meneruskan mengetik ayah bertanya “apa yang susah nak” anak
menjawab sambil terus bermain”ini balok yang ini yah” ayah masih mengetik ”oh..memangnya
kamu mau bikin apa?” lalu anak akan menjawab panjang lebar “aku mau bikin istana
…….” “oh ya kamu kan anak hebat, pasti kamu bisa sendiri bikinnya, coba bikin
deh pasti bagus” dan ayah bisa terus melanjutkan pekerjaannya. Dibanding ayah
menggerutu “duh..tunggu ya, ayah lagi sibuk nih, kamu bikin sendiri aja deh”
nanti anak akan terus merajuk dan mengganggu ayah yang sedang sibuk. Kejadian seperti
ini sering juga saya alami. Cuma masalahnya yang mengganggu gak cuma satu tapi
dua jadi tetep aja terganggu hehehe, mesti konsultasi lagi
Tempertantrum pada anak
Tempertantrum adalah ledakan kemarahan yang terjadi secara tiba-tiba tanpa terencana. Baik itu menangis keras-keras, berteriak, menjerit, menggigit, dll. Biasanya terjadi pada anak usia 1-4 tahun. Lama tantrum biasanya 30 detik – 2 menit saja. Tapi bila lebih dari itu dan melakukan hal-hal yang bisa membahayakan dirinya atau orang di sekitarnya maka ini menjadi hal yang serius.
Yang menjadi pemicu :
1. Frustasi. Mereka merasa gagal mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
2. Lelah. Aktivitas yang padat dan kurang waktu bermain.
3. Orang tua terlalu mengekang. Ia merasa jenuh dengan orang tua yang banyak mengatur dan melarang keinginannya.
4. Sifat dasar emosional. Mewarisi sifat dasar orang tua. Tidak sabaran, gampang marah.
5. Keinginan tak dipenuhi. Ini bila orang tua suka mengiming-imingi anak dengan sesuatu seperti es krim atau permen namun tidak memberikannya hanya sekedar rayuan saja.
Cara mengatasinya :
1. cari tau penyebabnya
2. Jangan ikut emosi. Melihat anak mengamuk sebaiknya kita tidak mencubit, menghardik bahkan memukul karena hanya memperparah kondisi, anak akan semakin mengamuk. Sebaiknya tenangkan diri dan berkata dengan lembut
3. Abaikan anak dan ajari ia mengatasi kemarahannya. Jangan turuti semua keinginannya saat itu juga. Bersikap cuek dan tidak memedulikan kemarahannya sehingga ia tahu bahwa marah bukan cara agar keinginannya dapat terpenuhi. Katakan padanya bahwa hanya anak yang menyampaikan keinginan dengan cara yang baik yang akan terpenuhi keinginannya. Sikap tegas dan konsistensi kita akan membuatnya disiplin.
4. Sudut diam. Bukan berarti mengurung anak di
kamar mandi atau gudang. Tapi tempatkan dia di sebuah kursi yang disebut kursi diam. Saat dia mengamuk maka dudukkan ia disana sampai ia dapat menenangkan dirinya. Boleh juga meminta
anak untuk masuk kekamar hingga ia bisa tenang. Setelah tenang baru ia boleh menyapa anda. curhat:Sebenarnya saya tidak terlalu mempraktekkan, tapi Syahdu selalu masuk kamar dan mojok kalau dia marah dan saya abaikan.
Normalnya memasuki usia 5 tahun setelah anak bergaul dan bersekolah maka
emosi mereka akan mereda. Jika di masa ini belum ada perubahan maka kita perlu
konsultasi pada yang ahli.
sumber : makalah seminar hypnoparenting
email narasumber : andimaipa@gmail.com
Seminar Hypnoparenting [bagian 1]
Pembicara : Andi Maipa Dewandaru, CHT, M.CH
Tempat : SD Binakheir Depok
Awalnya ngga sengaja lihat spanduk yang mengiklankan seminar ini sehari sebelum pelaksanaan. Trus coba menghubungi teman yang mengajar disitu bila saja masih bisa mendaftar, eh ternyata bisa dan GRATIS!! Wah ini penting banget, meskipun kalaupun berbayar tetap mau ikut juga J
Pagi itu saya sudah niat mau datang jam 8.30 terlambat tiga puluh menit dari jadwal. Kapok, setiap datang tepat waktu selalu ngaret. Bukan apa-apa soalnya sekarang banyak yang diurusin. Kasihan kalau anak-anak menunggu terlalu lama takutnya keburu bete. Oalah ternyata meleset jam sembilan baru tiba di TKP (deket sih dari rumah). Oo ternyata sudah banyak yang hadir... kukira bakalan sedikit yang datang. Tapi ternyata pembicaranya beluum datang, so masih acara selingan dari tuan rumah. Ada penampilan para siswanya ada juga gurunya (lucu banget loh). Wah anak saya sudah mulai rewel nih yang kecil, mana hujan lagi. Jadi ga bisa mainan outbound di halaman sekolah. Alhasil saya terpaksa menitipkan dulu anak-anak di rumah tante yang jaraknya hanya 300 meter dari TKP. Maka sayapun melenggang dengan tenang.
Sampai di tempat seminar ternyata pembicaranya sudah datang. Alhamdulillah. Waktu sudah menunjukkan 10.15. Dengan gaya simpatik dan humoris beliau membawakan materi seminar dengan cukup menarik ditambah dengan tampilan presentasi berupa video-video tayangan yang mendukung.
Jadi HYPNOPARENTING adalah salah satu metode pengasuhan anak dengan menggunakan komunikasi kata-kata yang efektif. Efektif berarti tepat sasaran dan menggerakkan anak untuk melakukan yang diinginkan. Pembicara memerintahkan peserta untuk melakukan yang beliau inginkan:
Pembicara : taruh tangan kanan di atas kepala
Peserta menaruh tangan di kepala
Pembicara : taruh tanan iri di atas kepala
Peserta mengikuti
Pembicara : berguling
Peserta saling berpandangan dan tidak berguling
Nah itulah salah satu contohnya, orang akan mengikuti perkataan pelaku hypnotis sepanjang masuk akal (wajar) dan mampu dilakukan.
Kemudian agara dapat berkomunikasi efektif dengan anak maka kita perlu :
1. Netral, misalnya saat anak terjatuh dan menangis maka kita cukup menghampiri dan melihat lukanya sembari berkata “oh jalannya kurang hati-hati” bukannya “siapa yang nakal nak? Lantainya ya?” sembari memukul lantai. Jadi netral disini tidak memihak anak, dia terjatuh memang karena dia kurang hati-hati jalannya.
2. Menghindari Labeling pada anak. Misalnya saat anak memecahkan gelas, karena kesal lalu kita mengatakan : “Dasar Nakal !” seharusnya tetap fokus pada kesalahan anak saja. “Nak, lain kali hati-hati ya, kalau pecahan gelasnya kena tanganmu kan bisa sakit”
3. Menerima Realitas yang memang dialami.
4. Sediakan waktu. Berkomunikasi efektif berarti harus bersabar, tidak bisa terburu-buru atau bicara cepat. Misalnya “cepat mandi!” ,”cepat tidur”. Tapi “ nak, kamu harus segera berangkat ke sekolah ayo mandi sekarang!”
5. Sabar. Haru s sabar dan kontinyu melakukan ini.
6. Bersiap menerima kemungkinan tak terduga.
Berikut ini adalah langkah-langkah dasar yang wajib dilakukan agar dapat menguasai jurus menjadi guru yang setara dengan motivator dunia. Langkah-langkah tersebut adalah :
1. Niat dan motivasi dalam diri Anda.
Kesuksesan seseorang tergantung pada niat seseorang untuk bersusah payah dan bekerja cerdas untuk mencapai kesuksesan tersebut. Niat yang besar akan memunculkan motivasi yang tinggi, serta komitmen untuk concern dan survive pada bidang yang ditekuni.
2. Pacing.
Langkah kedua ini adalah langkah yang sangat penting. Pacing berarti menyamakan posisi, gerak tubuh, bahasa, serta gelombang otak dengan orang lain. Misalnya menyamakan posisi berdiri kita agar sejajar dengan anak. Arah mata harus sejajar. Bila anak sedang duduk maka kita mengikuti, jika sedang berbaring pun seperti itu.(pembicara memberi contoh saat berbincang dengan seorang peserta).
3. Leading.
Leading berarti memimpin atau mengarahkan setelah proses pacing Anda lakukan. Jika kita melakukan leading tanpa didahului dengan pacing, hal itu sama saja dengan memberikan perintah pada anak dengan resiko anak melakukannya dengan terpaksa dan tertekan. Misalnya saat anak berkata bahwa dia malas berangkat ke sekolah dengan posisi masih berbaring di tempat tidurnya. Maka kita pun turut berbaring bersamanya untuk menyamakan posisi dan kontak mata.
Lalu anak bilang “aku malas ke sekolah, yah”
tanyalah “ apa yang meyebabkan kamu malas, sayang?”
“sebab teman-temanku nakal yah”
“semuanya nakal?”
“oh, engga sih, Cuma si ‘anu ‘ saja “
“Ngga semuanya kan? Cuma dia aja?”
“iya..”
“eh nak, kamu tau kan tom and jerry? Tom kan besar dan jerry kecil. Tapi jerry berani sama tom. Kamu kan anak hebat dan pemberani. Besok ketemu temanmu itu kamu beri senyum saja, tidak perlu takut. Ok sekarang kamu boleh di rumah saja tapi besok harus masuk ya..”
“ok yah..”
4. Gunakan kata positif.
Langkah berikutnya adalah langkah pendukung dalam melakukan pacing dan leading. Penggunaan kata positif ini sesuai dengan cara kerja pikiran bawah sadar yang tidak mau menerima kata negative. Misalnya memilih kata “tolong tenang ya, bicara pelan” daripada “jangan berisik ya”
5. Berikan pujian.
Pujian merupakan reward peningkatan harga diri seseorang. Pujian merupakan salah satu cara untuk membentuk konsep diri seseorang. Dalam memberikan pujian, hindari pula kata penghubung negative. Misalnya : tapi, namun, cuma saja, dan lain sebagainya. Karena penggunaan kata-kata tersebut akan membuat pujian menjadi sia-sia dan terkesan mengolok-olok. Misalnya “Kamu memang anak yang baik tapi kamu harus lebih rajin belajar”. Lebih baik “Kamu memang anak yang baik dan harus lebih rajin belajar supaya bisa dapat nilai lebih baik lagi”
6. Modeling.
Modeling adalah proses memberi tauladan melalui ucapan dan perilaku yang konsisten. Hal ini sangat perlu dan menjadi salah satu kunci hypnoparenting. Setelah anak menjadi nyaman dengan Anda, kemudian dapat diarahkan sesuai yang diinginkan, dengan modal kalimat-kalimat positif. Maka perlu pula kepercayaan (trust) anak dimantapkan dengan perilaku kita yang konsisten dengan ucapan dan ajaran kita. Sehingga kita selalu menjadi figure yang dipercaya.
Contoh kebiasaan sehari-hari:
Saat ibu menyuruh anaknya agar sudah di rumah sebelum magrib. Seringali orang tua menggunakan kata-kata yang menakuti agar anak mematuhi perintahnya:
“adi..ayo masuk, ini sudah mau magrib. Nanti kamu diculik hantu (gondolwewe dan sebangsanya)” lebih baik “adi sudah magrib nih, kan sudah janji akan pulang sebelum magrib, ayo masuk sekarang”
Menakuti anak dengan hantu dan sebangsanya hanya aan membuat anak menjadi penakut.
Menyuruh anak sholat:
“adi ayo solat, kalau tidak solat nanti masuk neraka loh, Allah marah sama kamu” sebaiknya “Adi, di surga enak loh ada banyak mainan yang bagus, nah supaya bisa masuk surga maka kita harus sholat supaya disayang Allah. Allah itu baik bisa kasih apa saja sama kita, nanti kita berdoa minta sama Allah ya.., yuk sholat sekarang”
Hasilnya, anak akan mau sholat dan berdoa minta apa saja sama Allah misalnya “Ya Allah aku mau mainan mobil” dan lain-lain. Nanti orang tua bilang “iya nanti Allah berikan mainan lewat rezeki yang diberikan kepada ayah”
Kepada anak balita sebaiknya mengenalkan Allah sebagai Pencipta dengan kata-kata positif.
Tempat : SD Binakheir Depok
Awalnya ngga sengaja lihat spanduk yang mengiklankan seminar ini sehari sebelum pelaksanaan. Trus coba menghubungi teman yang mengajar disitu bila saja masih bisa mendaftar, eh ternyata bisa dan GRATIS!! Wah ini penting banget, meskipun kalaupun berbayar tetap mau ikut juga J
Pagi itu saya sudah niat mau datang jam 8.30 terlambat tiga puluh menit dari jadwal. Kapok, setiap datang tepat waktu selalu ngaret. Bukan apa-apa soalnya sekarang banyak yang diurusin. Kasihan kalau anak-anak menunggu terlalu lama takutnya keburu bete. Oalah ternyata meleset jam sembilan baru tiba di TKP (deket sih dari rumah). Oo ternyata sudah banyak yang hadir... kukira bakalan sedikit yang datang. Tapi ternyata pembicaranya beluum datang, so masih acara selingan dari tuan rumah. Ada penampilan para siswanya ada juga gurunya (lucu banget loh). Wah anak saya sudah mulai rewel nih yang kecil, mana hujan lagi. Jadi ga bisa mainan outbound di halaman sekolah. Alhasil saya terpaksa menitipkan dulu anak-anak di rumah tante yang jaraknya hanya 300 meter dari TKP. Maka sayapun melenggang dengan tenang.
Sampai di tempat seminar ternyata pembicaranya sudah datang. Alhamdulillah. Waktu sudah menunjukkan 10.15. Dengan gaya simpatik dan humoris beliau membawakan materi seminar dengan cukup menarik ditambah dengan tampilan presentasi berupa video-video tayangan yang mendukung.
Jadi HYPNOPARENTING adalah salah satu metode pengasuhan anak dengan menggunakan komunikasi kata-kata yang efektif. Efektif berarti tepat sasaran dan menggerakkan anak untuk melakukan yang diinginkan. Pembicara memerintahkan peserta untuk melakukan yang beliau inginkan:
Pembicara : taruh tangan kanan di atas kepala
Peserta menaruh tangan di kepala
Pembicara : taruh tanan iri di atas kepala
Peserta mengikuti
Pembicara : berguling
Peserta saling berpandangan dan tidak berguling
Nah itulah salah satu contohnya, orang akan mengikuti perkataan pelaku hypnotis sepanjang masuk akal (wajar) dan mampu dilakukan.
Kemudian agara dapat berkomunikasi efektif dengan anak maka kita perlu :
1. Netral, misalnya saat anak terjatuh dan menangis maka kita cukup menghampiri dan melihat lukanya sembari berkata “oh jalannya kurang hati-hati” bukannya “siapa yang nakal nak? Lantainya ya?” sembari memukul lantai. Jadi netral disini tidak memihak anak, dia terjatuh memang karena dia kurang hati-hati jalannya.
2. Menghindari Labeling pada anak. Misalnya saat anak memecahkan gelas, karena kesal lalu kita mengatakan : “Dasar Nakal !” seharusnya tetap fokus pada kesalahan anak saja. “Nak, lain kali hati-hati ya, kalau pecahan gelasnya kena tanganmu kan bisa sakit”
3. Menerima Realitas yang memang dialami.
4. Sediakan waktu. Berkomunikasi efektif berarti harus bersabar, tidak bisa terburu-buru atau bicara cepat. Misalnya “cepat mandi!” ,”cepat tidur”. Tapi “ nak, kamu harus segera berangkat ke sekolah ayo mandi sekarang!”
5. Sabar. Haru s sabar dan kontinyu melakukan ini.
6. Bersiap menerima kemungkinan tak terduga.
Berikut ini adalah langkah-langkah dasar yang wajib dilakukan agar dapat menguasai jurus menjadi guru yang setara dengan motivator dunia. Langkah-langkah tersebut adalah :
1. Niat dan motivasi dalam diri Anda.
Kesuksesan seseorang tergantung pada niat seseorang untuk bersusah payah dan bekerja cerdas untuk mencapai kesuksesan tersebut. Niat yang besar akan memunculkan motivasi yang tinggi, serta komitmen untuk concern dan survive pada bidang yang ditekuni.
2. Pacing.
Langkah kedua ini adalah langkah yang sangat penting. Pacing berarti menyamakan posisi, gerak tubuh, bahasa, serta gelombang otak dengan orang lain. Misalnya menyamakan posisi berdiri kita agar sejajar dengan anak. Arah mata harus sejajar. Bila anak sedang duduk maka kita mengikuti, jika sedang berbaring pun seperti itu.(pembicara memberi contoh saat berbincang dengan seorang peserta).
3. Leading.
Leading berarti memimpin atau mengarahkan setelah proses pacing Anda lakukan. Jika kita melakukan leading tanpa didahului dengan pacing, hal itu sama saja dengan memberikan perintah pada anak dengan resiko anak melakukannya dengan terpaksa dan tertekan. Misalnya saat anak berkata bahwa dia malas berangkat ke sekolah dengan posisi masih berbaring di tempat tidurnya. Maka kita pun turut berbaring bersamanya untuk menyamakan posisi dan kontak mata.
Lalu anak bilang “aku malas ke sekolah, yah”
tanyalah “ apa yang meyebabkan kamu malas, sayang?”
“sebab teman-temanku nakal yah”
“semuanya nakal?”
“oh, engga sih, Cuma si ‘anu ‘ saja “
“Ngga semuanya kan? Cuma dia aja?”
“iya..”
“eh nak, kamu tau kan tom and jerry? Tom kan besar dan jerry kecil. Tapi jerry berani sama tom. Kamu kan anak hebat dan pemberani. Besok ketemu temanmu itu kamu beri senyum saja, tidak perlu takut. Ok sekarang kamu boleh di rumah saja tapi besok harus masuk ya..”
“ok yah..”
4. Gunakan kata positif.
Langkah berikutnya adalah langkah pendukung dalam melakukan pacing dan leading. Penggunaan kata positif ini sesuai dengan cara kerja pikiran bawah sadar yang tidak mau menerima kata negative. Misalnya memilih kata “tolong tenang ya, bicara pelan” daripada “jangan berisik ya”
5. Berikan pujian.
Pujian merupakan reward peningkatan harga diri seseorang. Pujian merupakan salah satu cara untuk membentuk konsep diri seseorang. Dalam memberikan pujian, hindari pula kata penghubung negative. Misalnya : tapi, namun, cuma saja, dan lain sebagainya. Karena penggunaan kata-kata tersebut akan membuat pujian menjadi sia-sia dan terkesan mengolok-olok. Misalnya “Kamu memang anak yang baik tapi kamu harus lebih rajin belajar”. Lebih baik “Kamu memang anak yang baik dan harus lebih rajin belajar supaya bisa dapat nilai lebih baik lagi”
6. Modeling.
Modeling adalah proses memberi tauladan melalui ucapan dan perilaku yang konsisten. Hal ini sangat perlu dan menjadi salah satu kunci hypnoparenting. Setelah anak menjadi nyaman dengan Anda, kemudian dapat diarahkan sesuai yang diinginkan, dengan modal kalimat-kalimat positif. Maka perlu pula kepercayaan (trust) anak dimantapkan dengan perilaku kita yang konsisten dengan ucapan dan ajaran kita. Sehingga kita selalu menjadi figure yang dipercaya.
Contoh kebiasaan sehari-hari:
Saat ibu menyuruh anaknya agar sudah di rumah sebelum magrib. Seringali orang tua menggunakan kata-kata yang menakuti agar anak mematuhi perintahnya:
“adi..ayo masuk, ini sudah mau magrib. Nanti kamu diculik hantu (gondolwewe dan sebangsanya)” lebih baik “adi sudah magrib nih, kan sudah janji akan pulang sebelum magrib, ayo masuk sekarang”
Menakuti anak dengan hantu dan sebangsanya hanya aan membuat anak menjadi penakut.
Menyuruh anak sholat:
“adi ayo solat, kalau tidak solat nanti masuk neraka loh, Allah marah sama kamu” sebaiknya “Adi, di surga enak loh ada banyak mainan yang bagus, nah supaya bisa masuk surga maka kita harus sholat supaya disayang Allah. Allah itu baik bisa kasih apa saja sama kita, nanti kita berdoa minta sama Allah ya.., yuk sholat sekarang”
Hasilnya, anak akan mau sholat dan berdoa minta apa saja sama Allah misalnya “Ya Allah aku mau mainan mobil” dan lain-lain. Nanti orang tua bilang “iya nanti Allah berikan mainan lewat rezeki yang diberikan kepada ayah”
Kepada anak balita sebaiknya mengenalkan Allah sebagai Pencipta dengan kata-kata positif.
2012-01-23
Anak-anakku yang cerdas dan kreatif
Sore itu seperti biasa, selepas memandikan kedua buah hatiku Syahdu (3.5th) dan Nada (16 bulan) , kami bercengkerama di ruang keluarga. Menemani mereka bermain sembari menikmati kelucuan yang ada merupakan hiburan yang amat menyenangkan. Putra pertamaku sudah dapat berjalan sejak usia sebelas bulan disusul dengan kebolehannya berbicara pada usia satu tahun. Sebelum lancar berbicara, dia sudah bisa menunjukkan gambar-gambar hewan dengan tepat saat ditanya. Kemampuan kognitifnya berkembang semakin baik setelah mampu berbicara, ia mampu menyebutkan namanya dan nama-nama anggota keluarga terdekat. Dilanjutkan dengan kemampuan menyebutkan huruf abjad baik huruf besar maupun huruf kecil. Kemampuan motoriknya juga berkembang sangat baik, terutama aktifitas tangannya. Meloncat, memanjat, melempar benda-benda tak terelakkan lagi sering dilakukannya.
Lalu bagaimana dengan putri kecilku yang menggemaskan? Perkembangan motoriknya memang sedikit lebih lambat dari abangnya. Nada baru bisa berjalan setelah berumur satu tahun dan berbicara empat bulan setelahnya. Namun setelah itu kemampuan motoriknya mampu menyamai abangnya. Mungkin karena sering melihat abangnya berloncatan kesana kemari sehingga dia meniru gerakan tersebut. Alhasil rumahku hanya bisa rapih saat mereka tidur atau berada di rumah orang lain, kekekekeke Sebenarnya aku sudah mempersiapkan diri dalam menghadapi keaktifan anak-anakku ini, namun tetap saja kesabaranku seakan perlu terus diuji. Mulai dari hal-hal sepele hingga hal-hal yang rasanya membuatku ingin berteriak minta tolong.
Episode Syahdu dengan mouse laptop
Sejak hamil hingga anak pertamaku berusia satu tahun, aku memang memilih untuk di rumah secara penuh dan mengurus anak sendiri tanpa dibantu siapa-siapa kecuali sesekali. Jadi aku suka mengisi waktu luang dengan main game yang ada di laptopku menggunakan mouse tentunya. Mouse-ku yang mengeluarkan cahaya lampu berwarna-warni rupaya menarik perhatian syahdu yang saat itu baru berusia enam bulan. Syahdu yang saat itu sedang belajar merangkak berusaha menggapai mouse dengan penuh semangat. Melihat keadaan itu aku menjadi berpikir bahwa ini adalah salah satu cara agar bayiku berlatih merangkak. Maka, akupun sengaja menjauhkan laptop dan mouse dari jangkauannya agar ia terus berusaha mendapatkan mouse itu. Begitu terus terjadi sehingga Syahdu menjadi amat akrab dengan mouse laptopku dan tidak hanya menyukai lampu yang menyala dari mouse tersebut tapi juga kabel yang menyertai mouse tersebut. alhasil diapun suka sekali merengek meminta mouse meski sedang tidak dinyalakan. Kalau sudah memainkan kabel-kabel mouse itu maka ia pun menjadi lebih tenang. Sampai mouse itu kutemukan tidak lagi bias dipoerasikan karena bola yang ada di dalamnya keluar dan rusak sehingga aku harus menggantinya dengan mouse yang baru. Hingga saat ini tak terasa aku telah mengganti mouse-ku sebanyak lima kali. Entah karena kabelnya yang rusak karena ditarik-tarik ataupun kepala mouse yang rusak karena dibanting atau terkena air liur. Lagi-lagi aku merelakan mouse-mouse itu menjadi mainan bagi anak-anakku. Toh kalau dibelikan mainan yang lain mereka cuma suka sesaat, tak apalah mouse itu menjadi korban bagi kekreatifan anakku. Bakat itu Nampaknya udah mulai kelihatan, Syahdu sudah mengerti cara menyalakan komputer, kabel-kabel mana saja yang harus dicolokkan ke stop kontak. Dia juga sudah bisa menggerakkan mouse dalam bermain game hamsterball kesukaannya. Bahkan tidak kusangka ia sudah bisa melewati level 2. Memainkan ipad touchscreen milik tantenya, wuihh gayanya.... samapai-sampai eyangnya dibuat takjub melihat gaya cucunya itu. Semoga kelak ia akan menjadi ahli komputer lebih pintar dari ayahnya. Amin..
Episode Syahdu dan pintu lemariku
Saat aku tengah sibuk memperhatikan putri kecilku yang sedang hobi memanjat kursi, tiba-tiba saja terdengar suara, “praaaakkk”, hah ada apa itu? Tergopoh-gopoh menuju sumber bunyi yang terdengar dari kamarku. Ternyata bunyi itu berasal dari pintu lemariku yang terlepas dari engselnya. Aku kaget tak mengerti mengapa bisa terjadi hal seperti ini. Syahdu berada disana, di depan lemariku.. ohhh syukurlah dia tidak ketiban atau terjepit pintu lemari. Tapi apa yang dia lakukan disana? Rasanya ingin marah dan langsung menarik jagoanku itu, namun aku menahannya. “Bang, abang ngapain di kamar sampai pintu lemari bunda jadi copot begitu?”, tanyaku sambil menahan jengkel. “Aku gak ngapa-ngapain kok bunda, aku cuma pegang gagang pintunya aja eh tau-tau copot”, jawabnya dengan ekspresi tak bersalah. Padahal rasanya baru beberapa menit ia menghilang dari pandanganku dan sesuatu telah terjadi tanpa dapat kucegah. Alhasil lemariku kini tak berpintu kecuali sebelah. Kalau bukan karena muka dan ekspresi lucunya, pastilah aku sudah memarahinya habis-habisan. Setelah amarahku mereda, aku menasihatinya baik-baik. Bahwa ia tidak boleh mnggelayuti lemari, tidak boleh bermain disana karena itu bukan mainan. Lemari merupakan tempat menyimpan baju supaya tidak digigit tikus. Juga memberinya pengertian agar mengasihani bunda dan ayah yang sudah membeli lemari dengan susah payah, berharap ia mampu menghargai jerih payah orang tuanya. Semoga dia mengerti apa yang aku katakan.
Episode pindah rumah
Kami baru saja tiga hari pindah rumah, tentu saja berantakan dimana-mana. Tidak ada orang yang membantu kami membereskan rumah, karena memang saat ini kami belum punya asisten rumah tangga. Disela-sela kesibukanku mengurus anak-anak dan juga mengajar, susah payah aku merapihkan seisi rumah agar lebih layak untuk dihuni. Berhubung anak-anakku masih perlu minum susu maka aku mengutamakan memasak air panas maupun dingin. Pagi-pagi aku sudah memasak air. Air panas sudah siap, air dingin kusimpan di lemari es agar lekas dingin. Beberapa jam kemudian, putriku menangis karena haus ingin minum susu. Maka akupun bergegas menyiapkan susu untuknya. Namun apa yang terjadi? Oh tidaaaakkk…….disana ada Syahdu sedang asik menuang air botol dari lemari es ke botol mickey mouse kesukaannya. Air-air itu pun bertumpahan ke lantai sehingga menarik Nada untuk bergabung bersama abangnya memainkan air. Nada menjatuhkan tubuhnya di atas lantai yang basah karena air yang ditumpahkan abangnya. Dan aku? Aku tak dapat menahan kekesalan dan berteriak, “Syahdu…. Ngapain kamu mainan air dingin? Bunda sudah capek-capek masak…”teriakku. Tidak ada air dingin yang tersisa, lalu bagaimana mau bikin susu? Terpaksalah kusimpan botol susu yang masih panas ke dalam freezer. Refleks saja kupukul tangannya yang iseng ituh... Setelah emosiku mereda, kutanya jagoanku itu,”Syahdu tadi kenapa kok airnya dipindahin ke botol mickey? Kan jadi kotor dan airnya jadi tumpah ke lantai, tanyaku. “Habis, aku pangil-panggil bunda nya gak denger, aku kan mau minum pake botol mickey...”, jawabnya polos. Aku mengerti maksud jagoanku itu. Dia hendak memindahkan air botol ke botol minum kesukaannya. Tentunya hal tersebut berguna dalam melatih otot motoriknya juga daya kognitifnya. Setidaknya dia memindahkannya ke botol dengan alasan yang benar. Bukan sengaja menumpahkan ke lantai begitu saja. Kalau dalam kondisi normal mungkin aku masih bisa menerima keadaan itu dengan lapang dada, namun saat itu aku benar-benar kelelahan. Sesudahnya, aku cuma senyum-senyum mengingat kelakuan-kelakuan lucu mereka.
Episode Nada dengan air
Aku semakin hapal dengan hal-hal yang disukai putriku. Pertama, dia paling suka diajak jalan-jalan, dengan motor, mobil ataupun jalan kaki. Kedua, dia paling senang main air. Bisa berjam-jam kalau sudah bermain air, kalau diangkat…uh jangan ditanya bisa ngamuk dia. Nah, siang itu Nada ngambek dan menangis terus tanpa sebab. Walhasil kurayu dia dengan mengizinkannya bermain air di teras depan, disana ada kran air yang mengucur. Benar saja, wajahnya langsung berbinar ceria. Kemudian akupun melanjutkan menyapu dan mengepel lantai di dalam rumah sambil bolak-balik menengok anakku itu, takut terpeleset. Sepuluh menit berlalu aku merasa, kok tidak kedengaran suaranya, ada apa ya? Kutengok dia ke teras. Hohoho apa yang terjadi? Nada sedang asyik bermain sabun cuci yang lupa kusimpan kembali. “nda…nda…ci..cii…”, teriaknya kegirangan. Maksudnya, bunda nih aku lagi nyuci. Bertaburanlah bubuk deterjen itu di teras lantai. Aduhh mau gimana lagi, memang keteledoranku yang menyebabkan semua ini. Daripada ngomel-ngomel, lebih baik kuciumi saja putriku yang tubuhnya padat berisi itu.
Episode Nada dengan handphone bunda
Nada suka sekali meniru kegiatan ayah dan bunda yang dianggap menarik olehnya. Seperti saat kami menerima telepon. Ia suka menirukan dengan menempelkan tangan di telinganya dan langsung berkata “halo..” lalu bergaya dan berbicara selayaknya orang sedang berbicara ditelepon. Hihihi lucu memang kalau melihat gaya yang seperti itu. Rupanya ia tidak puas hanya memeragakan tanpa memegang telepon sesungguhnya, maka tanpa kusadari anakku itu telah meraih telepon genggam yang kuletakkan di atas lemari es, entah karena apa, terlepaslah telepon genggamku itu dari tangannya dan “braaakk…”, jatuh ke lantai. Hiks, terlambat aku menyelamatkan handphone touch screen-ku itu, sedih dan terkejut kurasakan. Ingin kumarahi dia dan kuceramahi betapa pentingnya handphone dalam menunjang pekerjaan bundanya juga betapa sayangnya kalau harus membeli handphone yang baru sementara ada banyak kebutuhan yang mesti dipenuhi. Tapi, ah… dia mungkin takkan mengerti dengan semua yang akan kukatakan itu, dia pun pasti tak sengaja berbuat seperti itu. Reaksiku saat itu, tercengang tak percaya dan langsung masuk ke kamar tidurku. Meninggalkan anakku dengan ART-ku. Setelah tenang kembali, akupun menghampiri putri cantikku itu.
Sebelumnya, Nada pernah membanting handphone cdma-ku. Namun mengapa, aku tetap saja tak tega bila melihatnya merajuk minta dipinjamkan handphone baruku itu. Aku memahami bahwa anakku memang anak yang besar rasa ingin tahunya juga aktif dalam bergerak. Sering pula ia tidak sabar dan begitu ngotot dengan keinginannya. Bila tidak diberi maka akan mengamuk dan tidak berhenti sebelum dituruti keinginannya. Dalam hal ini misalnya bila ingin memegang handphone-ku namun tak diberi, maka akan terus merajuk hingga diberi. Gerakannya yang aktif kesana-kemari diam-diam ia suka mengamati gerak-gerik ayah-bundanya, apa saja yang kami lakukan dan kami pegang. Ia pun tertarik dengan alat yang dapat mengeluarkan bunyi kemudian ketika dipencet-pencet dapat terdengar suara orang-orang yang dikenalnya, entah suara ayah ataupun eyangnya. Pernah kuberikan dia handphone mainan dengan baterai yang dapat mengeluarkan bunyi-bunyian namun hanya sebentar saja dimainkan olehnya. Dia tetap lebih memilih handphoneku atau hanphone ayahnya dan tak menggubris handphone mainan yang kubelikan untuknya. Ah dia terlalu pintar untuk dibohongi. Bahkan dia sudah dapat membedakan mana yang mainan dan mana yang sungguhan. Aku pun berpikir, ya sudahlah kalaupun harus handphoneku menjadi korban atas keaktifan anakku. Mungkin inilah yang dimaksud dengan learning cost harga dari sebuah pembelajaran.
Masih berderet cerita tentang hasil kerajinan tangan anak-anakku. Setelah kupikir-pikir anakku melakukan hal yang kelihatannya tidak baik namun sebenarnya memiliki arti bagi mereka. Mereka memiliki maksud namun karena keterbatasan yang mereka miliki sehingga maksud tersebut menjadi salah terutama di mata orang dewasa, para orang tua yang kemudian menganggap hal-hal tersebut sebagai kenakalan. Mereka hanyalah anak-anak yang penuh rasa ingin tahu dan tidak sabar untuk dilarang begini dan begitu. Di usia mereka, tidak ada rasa takut melakukan sesuatu ataupun memegang sesuatu yang berbahaya bagi orang dewasa. Misalnya saat mereka tanpa sengaja bermain dengan pisau, api atau benda-benda lainnya. Tugas kitalah sebagai orang tua untuk menghindarkan anak-anak dari benda tersebut agar tidak terjadi sesuatu yang dapat mencelakakan mereka. Kemudian menasihati mereka dengan baik dan sabar bila mereka melakukan hal-hal yang dirasa tidak baik apalagi membahayakan. Namun tidak setiap hal perlu kita larang, ada hal-hal yang mungkin berbahaya namun masih dapat ditolerir bila kita mendampingi mereka dalam bermain. Misalnya saat mereka hendak memanjat kursi, mereka tetap dapat melakukannya tentu dengan pengawasan kita sebagai orang tua. Hal ini perlu dilakukan agar mereka tidak terpaksa perlu untuk melakukannya sendiri. Karena sesungguhnya kaca yang pecah dapat diganti dengan yang baru, namun siapa yang bias menghapus kesedihan di hati anak-anak karena hardikan kasar orang tua? Sesungguhnya anak-anak adalah amanah dari allah untuk kita jaga dan didik sebaik mungkin. Mereka adalah anak-anak unik yang tak bisa disamakan satu sama lain. Yang mengajarkan kepada kita kesabaran. Meski pernah saya memarahi anak-anak karena tingkah mereka yang kerap menjengkelkan namun anak-anak tidak pernah menjadi takut atau segan terhadap saya, bundanya. Tetap saja mereka merajuk seolah memohon untuk dimaafkan. Beda halnya jika mereka dimarahi oleh orang lain, pasti mereka menangis karena takut. Sesudah memarahi pun rasanya menyesal juga. Biasanya saya langsung memeluk dan menciumi mereka usai marah. Saya pribadi berusaha menahan diri sebisa mungkin agar tidak mengeluarkan kata-kata kasar yang dapat melukai hati mereka ataupun untuk mereka tiru. Apalagi memukuli mereka untuk melampiaskan amarah. Bila sesekali khilaf memukul ringan, segeralah meminta maaf pada anak dan memeluknya erat, agar anak tak merasa tak disayang. Sungguh, mereka tidak bermaksud untuk nakal kecuali rasa penasaran yang besar atau sekedar mencari perhatian.
Syahdu dan Nada adalah malaikat dan peri kecil yang telah memenuhi hari-hariku dengan berbagai hal luar biasa menakjubkan. Mereka mengajariku bagaimana bersabar dan indahnya menjadi seorang bunda. Memaksaku berpikir keras dalam memenuhi rasa ingin tahu mereka yang besar. Melatih bunda untuk memasak bervariasi menu yang menyenangkan dan lezat. Juga melatih bunda agar bisa merapihkan rumah lebih baik dari waktu ke waktu. Terima kasih telah membuat bunda bisa menulis kembali
Lalu bagaimana dengan putri kecilku yang menggemaskan? Perkembangan motoriknya memang sedikit lebih lambat dari abangnya. Nada baru bisa berjalan setelah berumur satu tahun dan berbicara empat bulan setelahnya. Namun setelah itu kemampuan motoriknya mampu menyamai abangnya. Mungkin karena sering melihat abangnya berloncatan kesana kemari sehingga dia meniru gerakan tersebut. Alhasil rumahku hanya bisa rapih saat mereka tidur atau berada di rumah orang lain, kekekekeke Sebenarnya aku sudah mempersiapkan diri dalam menghadapi keaktifan anak-anakku ini, namun tetap saja kesabaranku seakan perlu terus diuji. Mulai dari hal-hal sepele hingga hal-hal yang rasanya membuatku ingin berteriak minta tolong.
Episode Syahdu dengan mouse laptop
Sejak hamil hingga anak pertamaku berusia satu tahun, aku memang memilih untuk di rumah secara penuh dan mengurus anak sendiri tanpa dibantu siapa-siapa kecuali sesekali. Jadi aku suka mengisi waktu luang dengan main game yang ada di laptopku menggunakan mouse tentunya. Mouse-ku yang mengeluarkan cahaya lampu berwarna-warni rupaya menarik perhatian syahdu yang saat itu baru berusia enam bulan. Syahdu yang saat itu sedang belajar merangkak berusaha menggapai mouse dengan penuh semangat. Melihat keadaan itu aku menjadi berpikir bahwa ini adalah salah satu cara agar bayiku berlatih merangkak. Maka, akupun sengaja menjauhkan laptop dan mouse dari jangkauannya agar ia terus berusaha mendapatkan mouse itu. Begitu terus terjadi sehingga Syahdu menjadi amat akrab dengan mouse laptopku dan tidak hanya menyukai lampu yang menyala dari mouse tersebut tapi juga kabel yang menyertai mouse tersebut. alhasil diapun suka sekali merengek meminta mouse meski sedang tidak dinyalakan. Kalau sudah memainkan kabel-kabel mouse itu maka ia pun menjadi lebih tenang. Sampai mouse itu kutemukan tidak lagi bias dipoerasikan karena bola yang ada di dalamnya keluar dan rusak sehingga aku harus menggantinya dengan mouse yang baru. Hingga saat ini tak terasa aku telah mengganti mouse-ku sebanyak lima kali. Entah karena kabelnya yang rusak karena ditarik-tarik ataupun kepala mouse yang rusak karena dibanting atau terkena air liur. Lagi-lagi aku merelakan mouse-mouse itu menjadi mainan bagi anak-anakku. Toh kalau dibelikan mainan yang lain mereka cuma suka sesaat, tak apalah mouse itu menjadi korban bagi kekreatifan anakku. Bakat itu Nampaknya udah mulai kelihatan, Syahdu sudah mengerti cara menyalakan komputer, kabel-kabel mana saja yang harus dicolokkan ke stop kontak. Dia juga sudah bisa menggerakkan mouse dalam bermain game hamsterball kesukaannya. Bahkan tidak kusangka ia sudah bisa melewati level 2. Memainkan ipad touchscreen milik tantenya, wuihh gayanya.... samapai-sampai eyangnya dibuat takjub melihat gaya cucunya itu. Semoga kelak ia akan menjadi ahli komputer lebih pintar dari ayahnya. Amin..
Episode Syahdu dan pintu lemariku
Saat aku tengah sibuk memperhatikan putri kecilku yang sedang hobi memanjat kursi, tiba-tiba saja terdengar suara, “praaaakkk”, hah ada apa itu? Tergopoh-gopoh menuju sumber bunyi yang terdengar dari kamarku. Ternyata bunyi itu berasal dari pintu lemariku yang terlepas dari engselnya. Aku kaget tak mengerti mengapa bisa terjadi hal seperti ini. Syahdu berada disana, di depan lemariku.. ohhh syukurlah dia tidak ketiban atau terjepit pintu lemari. Tapi apa yang dia lakukan disana? Rasanya ingin marah dan langsung menarik jagoanku itu, namun aku menahannya. “Bang, abang ngapain di kamar sampai pintu lemari bunda jadi copot begitu?”, tanyaku sambil menahan jengkel. “Aku gak ngapa-ngapain kok bunda, aku cuma pegang gagang pintunya aja eh tau-tau copot”, jawabnya dengan ekspresi tak bersalah. Padahal rasanya baru beberapa menit ia menghilang dari pandanganku dan sesuatu telah terjadi tanpa dapat kucegah. Alhasil lemariku kini tak berpintu kecuali sebelah. Kalau bukan karena muka dan ekspresi lucunya, pastilah aku sudah memarahinya habis-habisan. Setelah amarahku mereda, aku menasihatinya baik-baik. Bahwa ia tidak boleh mnggelayuti lemari, tidak boleh bermain disana karena itu bukan mainan. Lemari merupakan tempat menyimpan baju supaya tidak digigit tikus. Juga memberinya pengertian agar mengasihani bunda dan ayah yang sudah membeli lemari dengan susah payah, berharap ia mampu menghargai jerih payah orang tuanya. Semoga dia mengerti apa yang aku katakan.
Episode pindah rumah
Kami baru saja tiga hari pindah rumah, tentu saja berantakan dimana-mana. Tidak ada orang yang membantu kami membereskan rumah, karena memang saat ini kami belum punya asisten rumah tangga. Disela-sela kesibukanku mengurus anak-anak dan juga mengajar, susah payah aku merapihkan seisi rumah agar lebih layak untuk dihuni. Berhubung anak-anakku masih perlu minum susu maka aku mengutamakan memasak air panas maupun dingin. Pagi-pagi aku sudah memasak air. Air panas sudah siap, air dingin kusimpan di lemari es agar lekas dingin. Beberapa jam kemudian, putriku menangis karena haus ingin minum susu. Maka akupun bergegas menyiapkan susu untuknya. Namun apa yang terjadi? Oh tidaaaakkk…….disana ada Syahdu sedang asik menuang air botol dari lemari es ke botol mickey mouse kesukaannya. Air-air itu pun bertumpahan ke lantai sehingga menarik Nada untuk bergabung bersama abangnya memainkan air. Nada menjatuhkan tubuhnya di atas lantai yang basah karena air yang ditumpahkan abangnya. Dan aku? Aku tak dapat menahan kekesalan dan berteriak, “Syahdu…. Ngapain kamu mainan air dingin? Bunda sudah capek-capek masak…”teriakku. Tidak ada air dingin yang tersisa, lalu bagaimana mau bikin susu? Terpaksalah kusimpan botol susu yang masih panas ke dalam freezer. Refleks saja kupukul tangannya yang iseng ituh... Setelah emosiku mereda, kutanya jagoanku itu,”Syahdu tadi kenapa kok airnya dipindahin ke botol mickey? Kan jadi kotor dan airnya jadi tumpah ke lantai, tanyaku. “Habis, aku pangil-panggil bunda nya gak denger, aku kan mau minum pake botol mickey...”, jawabnya polos. Aku mengerti maksud jagoanku itu. Dia hendak memindahkan air botol ke botol minum kesukaannya. Tentunya hal tersebut berguna dalam melatih otot motoriknya juga daya kognitifnya. Setidaknya dia memindahkannya ke botol dengan alasan yang benar. Bukan sengaja menumpahkan ke lantai begitu saja. Kalau dalam kondisi normal mungkin aku masih bisa menerima keadaan itu dengan lapang dada, namun saat itu aku benar-benar kelelahan. Sesudahnya, aku cuma senyum-senyum mengingat kelakuan-kelakuan lucu mereka.
Episode Nada dengan air
Aku semakin hapal dengan hal-hal yang disukai putriku. Pertama, dia paling suka diajak jalan-jalan, dengan motor, mobil ataupun jalan kaki. Kedua, dia paling senang main air. Bisa berjam-jam kalau sudah bermain air, kalau diangkat…uh jangan ditanya bisa ngamuk dia. Nah, siang itu Nada ngambek dan menangis terus tanpa sebab. Walhasil kurayu dia dengan mengizinkannya bermain air di teras depan, disana ada kran air yang mengucur. Benar saja, wajahnya langsung berbinar ceria. Kemudian akupun melanjutkan menyapu dan mengepel lantai di dalam rumah sambil bolak-balik menengok anakku itu, takut terpeleset. Sepuluh menit berlalu aku merasa, kok tidak kedengaran suaranya, ada apa ya? Kutengok dia ke teras. Hohoho apa yang terjadi? Nada sedang asyik bermain sabun cuci yang lupa kusimpan kembali. “nda…nda…ci..cii…”, teriaknya kegirangan. Maksudnya, bunda nih aku lagi nyuci. Bertaburanlah bubuk deterjen itu di teras lantai. Aduhh mau gimana lagi, memang keteledoranku yang menyebabkan semua ini. Daripada ngomel-ngomel, lebih baik kuciumi saja putriku yang tubuhnya padat berisi itu.
Episode Nada dengan handphone bunda
Nada suka sekali meniru kegiatan ayah dan bunda yang dianggap menarik olehnya. Seperti saat kami menerima telepon. Ia suka menirukan dengan menempelkan tangan di telinganya dan langsung berkata “halo..” lalu bergaya dan berbicara selayaknya orang sedang berbicara ditelepon. Hihihi lucu memang kalau melihat gaya yang seperti itu. Rupanya ia tidak puas hanya memeragakan tanpa memegang telepon sesungguhnya, maka tanpa kusadari anakku itu telah meraih telepon genggam yang kuletakkan di atas lemari es, entah karena apa, terlepaslah telepon genggamku itu dari tangannya dan “braaakk…”, jatuh ke lantai. Hiks, terlambat aku menyelamatkan handphone touch screen-ku itu, sedih dan terkejut kurasakan. Ingin kumarahi dia dan kuceramahi betapa pentingnya handphone dalam menunjang pekerjaan bundanya juga betapa sayangnya kalau harus membeli handphone yang baru sementara ada banyak kebutuhan yang mesti dipenuhi. Tapi, ah… dia mungkin takkan mengerti dengan semua yang akan kukatakan itu, dia pun pasti tak sengaja berbuat seperti itu. Reaksiku saat itu, tercengang tak percaya dan langsung masuk ke kamar tidurku. Meninggalkan anakku dengan ART-ku. Setelah tenang kembali, akupun menghampiri putri cantikku itu.
Sebelumnya, Nada pernah membanting handphone cdma-ku. Namun mengapa, aku tetap saja tak tega bila melihatnya merajuk minta dipinjamkan handphone baruku itu. Aku memahami bahwa anakku memang anak yang besar rasa ingin tahunya juga aktif dalam bergerak. Sering pula ia tidak sabar dan begitu ngotot dengan keinginannya. Bila tidak diberi maka akan mengamuk dan tidak berhenti sebelum dituruti keinginannya. Dalam hal ini misalnya bila ingin memegang handphone-ku namun tak diberi, maka akan terus merajuk hingga diberi. Gerakannya yang aktif kesana-kemari diam-diam ia suka mengamati gerak-gerik ayah-bundanya, apa saja yang kami lakukan dan kami pegang. Ia pun tertarik dengan alat yang dapat mengeluarkan bunyi kemudian ketika dipencet-pencet dapat terdengar suara orang-orang yang dikenalnya, entah suara ayah ataupun eyangnya. Pernah kuberikan dia handphone mainan dengan baterai yang dapat mengeluarkan bunyi-bunyian namun hanya sebentar saja dimainkan olehnya. Dia tetap lebih memilih handphoneku atau hanphone ayahnya dan tak menggubris handphone mainan yang kubelikan untuknya. Ah dia terlalu pintar untuk dibohongi. Bahkan dia sudah dapat membedakan mana yang mainan dan mana yang sungguhan. Aku pun berpikir, ya sudahlah kalaupun harus handphoneku menjadi korban atas keaktifan anakku. Mungkin inilah yang dimaksud dengan learning cost harga dari sebuah pembelajaran.
Masih berderet cerita tentang hasil kerajinan tangan anak-anakku. Setelah kupikir-pikir anakku melakukan hal yang kelihatannya tidak baik namun sebenarnya memiliki arti bagi mereka. Mereka memiliki maksud namun karena keterbatasan yang mereka miliki sehingga maksud tersebut menjadi salah terutama di mata orang dewasa, para orang tua yang kemudian menganggap hal-hal tersebut sebagai kenakalan. Mereka hanyalah anak-anak yang penuh rasa ingin tahu dan tidak sabar untuk dilarang begini dan begitu. Di usia mereka, tidak ada rasa takut melakukan sesuatu ataupun memegang sesuatu yang berbahaya bagi orang dewasa. Misalnya saat mereka tanpa sengaja bermain dengan pisau, api atau benda-benda lainnya. Tugas kitalah sebagai orang tua untuk menghindarkan anak-anak dari benda tersebut agar tidak terjadi sesuatu yang dapat mencelakakan mereka. Kemudian menasihati mereka dengan baik dan sabar bila mereka melakukan hal-hal yang dirasa tidak baik apalagi membahayakan. Namun tidak setiap hal perlu kita larang, ada hal-hal yang mungkin berbahaya namun masih dapat ditolerir bila kita mendampingi mereka dalam bermain. Misalnya saat mereka hendak memanjat kursi, mereka tetap dapat melakukannya tentu dengan pengawasan kita sebagai orang tua. Hal ini perlu dilakukan agar mereka tidak terpaksa perlu untuk melakukannya sendiri. Karena sesungguhnya kaca yang pecah dapat diganti dengan yang baru, namun siapa yang bias menghapus kesedihan di hati anak-anak karena hardikan kasar orang tua? Sesungguhnya anak-anak adalah amanah dari allah untuk kita jaga dan didik sebaik mungkin. Mereka adalah anak-anak unik yang tak bisa disamakan satu sama lain. Yang mengajarkan kepada kita kesabaran. Meski pernah saya memarahi anak-anak karena tingkah mereka yang kerap menjengkelkan namun anak-anak tidak pernah menjadi takut atau segan terhadap saya, bundanya. Tetap saja mereka merajuk seolah memohon untuk dimaafkan. Beda halnya jika mereka dimarahi oleh orang lain, pasti mereka menangis karena takut. Sesudah memarahi pun rasanya menyesal juga. Biasanya saya langsung memeluk dan menciumi mereka usai marah. Saya pribadi berusaha menahan diri sebisa mungkin agar tidak mengeluarkan kata-kata kasar yang dapat melukai hati mereka ataupun untuk mereka tiru. Apalagi memukuli mereka untuk melampiaskan amarah. Bila sesekali khilaf memukul ringan, segeralah meminta maaf pada anak dan memeluknya erat, agar anak tak merasa tak disayang. Sungguh, mereka tidak bermaksud untuk nakal kecuali rasa penasaran yang besar atau sekedar mencari perhatian.
Syahdu dan Nada adalah malaikat dan peri kecil yang telah memenuhi hari-hariku dengan berbagai hal luar biasa menakjubkan. Mereka mengajariku bagaimana bersabar dan indahnya menjadi seorang bunda. Memaksaku berpikir keras dalam memenuhi rasa ingin tahu mereka yang besar. Melatih bunda untuk memasak bervariasi menu yang menyenangkan dan lezat. Juga melatih bunda agar bisa merapihkan rumah lebih baik dari waktu ke waktu. Terima kasih telah membuat bunda bisa menulis kembali
Dibalik Pilihan Seorang Ibu
Menjadi seorang ibu baru bukanlah pekerjaan mudah. Lepas dari hamil yang merepotkan hingga melahirkan yang butuh perjuangan. Menyusui yang kukira bisa terjadi dengan sendirinya tak kualami sama sekali. Di hari ketiga pasca melahirkan, aku masih kebingungan mengapa ASIku tak kunjung keluar kecuali setetes dua tetes. Demi memberikan kolostrum bagi bayiku yang baru lahir aku terus berharap dan mengusahakan keluarnya ASI. Berturut-turut temanku yang datang membesuk kelahiran putraku terus memberi dorongan dan masukan agar aku senantiasa bersabar menyusui bayiku. Dan bayiku terus menangis hingga akhirnya tertidur di pangkuanku, kelelahan menangis karena yang ia harapkan dapat memenuhi dahaganya tidak juga ada. Selama sebulan aku terus memperjuangkan ASI keluar sembari memberikan susu formula kepada bayiku. Mengenai hal ini keluargaku sempat memiliki trauma tersendiri. Adik bungsuku, Rayhan, dilahirkan oleh ibuku saat usiaku enam belas tahun. Sudah pasti aku telah mengerti mengenai apa yang terjadi saat itu. Ibuku melahirkan secara caesar, sehingga masih harus menginap di RS selama lima hari. Sayangnya, di hari ketiga ibuku merasa gelisah. Ia merasa ada yang tidak beres dengan adik kecilku. Memang adik kecilku berada di ruangan terpisah dari ibuku. Kami tidak bisa menyuapinya susu dengan leluasa kecuali di siang hari. Ibuku sangat khawatir mengenai hal ini. ASI ibuku memang tak kunjung keluar meski payudaranya telah membengkak dan ia merasakan sakit yang amat sangat. Tak kurang dokter juga perawat yang mengusahakan agar ASI dapat segera keluar dari ibuku. Pastinya mereka memperhatikan karena ibuku dirawat di ruang VIP. Sayangnya ASI tak juga keluar dan peraturan rumah sakit tidak membolehkan memberikan susu menggunakan botol dot, bayi harus disuapi dengan sendok. Menyuapi bayi dengan sendok bukan perkara mudah. Ini adalah hal yang memerlukan ketelatenan dan kesabaran tingkat tinggi. Sementara saat menyuapi adikku di siang harinya saja aku sudah kerepotan, apalagi para perawat yang notabene merawat lebih dari satu bayi? Dan kekhawatiran ibuku beralasan. Ibuku curiga dengan suara tangisan bayi yang ia dengar terus-menerus. Ia merasa itu adalah suara tangisan adikku yang kehausan. Meski belum pulih benar, ibuku bangun dari tempat tidurnya dan bergegas menuju ruang bayi. Dan benar saja, adikku terus menangis disana. Sedihnya, badan adikku terasa panas dan kekuningan. Kontan saja ibuku langsung marah-marah, sambil berlinangan air mata, kepada perawat yang ada. Ia kecewa dengan pelayanan yang diberikan, padahal kami bersedia merawat adik bayi namun tidak diizinkan sekamar dengan ibuku. Dokter pun segera datang dan menangani adikku. Ternyata billirubin adikku tinggi, ini diakibatkan kurangnya cairan dan sinar matahari. Kasihan sekali dia, akibat kelalaian perawat, adikku yang mungil harus berada di ruang inkubator. Tubuh mungilnya terlihat ringkih diselimuti selang, tak hanya itu bayi berumur tiga hari itu terpaksa ditransfusi darah pada bagian kepala. Ya Allah tak terkira pedihnya hati kami (bahkan saat menuliskannya aku masih saja meneteskan air mata). Ibuku, bapakku, aku dan adikku, kami terus saja menangis melihat adik bayi tergolek lemah disana. Kami hanya bisa berdoa untuk kesembuhan adik. Di hari kelima, ibuku sudah boleh pulang, tapi adikku masih harus dirawat disana. Itu adalah hari-hari paling memilukan dalam keluarga kami. Syukurlah tiga hari berikutnya adikku sudah sehat kembali sebagaimana bayi lainnya. Hal ini adalah pelajaran berharga dalam hidup kami, hidupku. Barangkali ini pula yang menjadi latar belakang mengapa ibuku mendorongku untuk memberikan sufor sesegera mungkin ketika melihat ASIku tak kunjung keluar. Tentu saja ia tak ingin kejadian serupa kembali terjadi pada anakku.
Aku menyaksikan sendiri perisitiwa ini terjadi pada ibuku saat melahirkan adik kecilku. Sehingga au mengetahui jawaban yang sesungguhnya mengenai pilihan ibuku terhadap anak-anaknya dan aku tak mampu menghakiminya mengapa ia tak memberikan ASI pada kami? Nyata adanya kulihat hebatnya rasa sakit karena membengkaknya payudara akibat ASI yang tidak keluar. Itupula yang terjadi padaku pasca melahirkan putra pertamaku. Setelah aku merasa telah berjuang sepenuh tenaga demi memeroleh ASI bagi putraku, aku pun menyerahan sepenuhnya kepada Allah SWT. Inilah rezeki yang diperuntukkan bagi putraku berupa susu formula. Sungguh aku tak tergiur dengan iklan-iklan susu formula yang menawarkan berbagai kelebihannya. Aku adalah ibu yang insaf bahwa ASI adalah yang terbaik bagi setiap bayi. ASI tentu lebih mudah daripada harus menyiapkan susu formula apalagi saat keuangan keluarga sedang tidak baik. Maka aku tidak mengerti kalau seorang ibu harus dipersalahkan karena ia tidak bisa memberikan ASI pada putranya, karena sesungguhnya ia tidak pernah menginginkan hal itu terjadi. Aku hanya bisa berdoa semoga susu yang dibeli dengan jerih payah ayahnya dapat bermanfaat bagi tubuhnya dan tiada memberikan efek samping negatif apapun yang dikatakan orang maupun berita-berita itu. Setiap ada pemberitaan negatif mengenai susu formula, hanya Allah yang tahu betapa gundah-gulananya diriku sambil terus berdoa agar anakku baik-baik saja. Sesungguhnya Allah lah yang memberikan manfaat pada setiap makanan dan ia pula yang menurunkan penyakit sebagai ujian. Dan aku berharap Allah menjaga anakku dari segala penyakit berbahaya. Aku meyakini kehalalan dari susu formula tersebut, aku juga tak melihat ada dalil Qur’an ataupun Hadits yang menyatakan keharaman pemberian susu bukan ASI pada seorang anak. Tidak pula seorang ibu dinista karenanya. Rasulullah saw bahkan meminum susu unta. Tidakkah sapi, kedelai atau bahkan kambing juga makhluk ciptaan Allah yang darinya terdapat banyak manfaat? Entang daging atau susunya. Artikel demi artikel mengenai kehebatan ASI dan juga keburukan susu formula kulahap sebagai informasi penting bagi diriku agar tetap waspada. Namun aku sudah lelah bila harus berpolemik mengenai hal tersebut. Biarlah setiap ibu mengusahakan yang terbaik bagi anak-anaknya dan memutuskan yang terbaik tanpa harus banyak berdebat. Syukurilah bila seorang ibu dapat memberikan ASI dengan lancar dan mudah kemudian sukses membesarkan mereka tanpa juga harus diimunisasi. Karena cobaan yang kita alami berbeda, cobalah berempati dengan ibu-ibu lain yang tak seberuntung itu.
Aku menyaksikan sendiri perisitiwa ini terjadi pada ibuku saat melahirkan adik kecilku. Sehingga au mengetahui jawaban yang sesungguhnya mengenai pilihan ibuku terhadap anak-anaknya dan aku tak mampu menghakiminya mengapa ia tak memberikan ASI pada kami? Nyata adanya kulihat hebatnya rasa sakit karena membengkaknya payudara akibat ASI yang tidak keluar. Itupula yang terjadi padaku pasca melahirkan putra pertamaku. Setelah aku merasa telah berjuang sepenuh tenaga demi memeroleh ASI bagi putraku, aku pun menyerahan sepenuhnya kepada Allah SWT. Inilah rezeki yang diperuntukkan bagi putraku berupa susu formula. Sungguh aku tak tergiur dengan iklan-iklan susu formula yang menawarkan berbagai kelebihannya. Aku adalah ibu yang insaf bahwa ASI adalah yang terbaik bagi setiap bayi. ASI tentu lebih mudah daripada harus menyiapkan susu formula apalagi saat keuangan keluarga sedang tidak baik. Maka aku tidak mengerti kalau seorang ibu harus dipersalahkan karena ia tidak bisa memberikan ASI pada putranya, karena sesungguhnya ia tidak pernah menginginkan hal itu terjadi. Aku hanya bisa berdoa semoga susu yang dibeli dengan jerih payah ayahnya dapat bermanfaat bagi tubuhnya dan tiada memberikan efek samping negatif apapun yang dikatakan orang maupun berita-berita itu. Setiap ada pemberitaan negatif mengenai susu formula, hanya Allah yang tahu betapa gundah-gulananya diriku sambil terus berdoa agar anakku baik-baik saja. Sesungguhnya Allah lah yang memberikan manfaat pada setiap makanan dan ia pula yang menurunkan penyakit sebagai ujian. Dan aku berharap Allah menjaga anakku dari segala penyakit berbahaya. Aku meyakini kehalalan dari susu formula tersebut, aku juga tak melihat ada dalil Qur’an ataupun Hadits yang menyatakan keharaman pemberian susu bukan ASI pada seorang anak. Tidak pula seorang ibu dinista karenanya. Rasulullah saw bahkan meminum susu unta. Tidakkah sapi, kedelai atau bahkan kambing juga makhluk ciptaan Allah yang darinya terdapat banyak manfaat? Entang daging atau susunya. Artikel demi artikel mengenai kehebatan ASI dan juga keburukan susu formula kulahap sebagai informasi penting bagi diriku agar tetap waspada. Namun aku sudah lelah bila harus berpolemik mengenai hal tersebut. Biarlah setiap ibu mengusahakan yang terbaik bagi anak-anaknya dan memutuskan yang terbaik tanpa harus banyak berdebat. Syukurilah bila seorang ibu dapat memberikan ASI dengan lancar dan mudah kemudian sukses membesarkan mereka tanpa juga harus diimunisasi. Karena cobaan yang kita alami berbeda, cobalah berempati dengan ibu-ibu lain yang tak seberuntung itu.
2011-11-02
Produk Kecantikan

1. Nano Active Gold Mask form germany. 65 gram harga 125rb.
Masker GOLD powder dengan butiran active NANO, yg cepat meresap ke dalam kulit dan bekerja utk:
a. Mencerahkan /memutihkan kulit (instant)
b. Mengatasi wajah lelah (instant)
c. Mengurangi garis halus
d. Mengangkat sel kulit mati
e. Menghapus dan mengurangi flek noda
f. Meremajakan Kulit sehingga keliatan lebih muda, berseri,merona n pasti ++ cantik...
g. langsung mengencangkan dan mengangkat kulit
h. mengecilkan pori-pori
i.hilangkan bekas jerawat
Cara Pemakaian:
Penggunaan mudah cukup dicampur air dan oleskan merata pada wajah
Tunggu sampai kering
Angkat masker dgn cara cuci pake air biasa ga usah pake sabun.
Isi 65gr (bisa lebih dari 15x pakai)
(diracik oleh Dr. spesialis kecantikan dg bahan dasar made in germany)
2. Hoodia slimming herbal
Rp. 170rb.
3. ABC Acai Berry
pelangsing tubuh (dengan double effek) adalah 100 % produk natural. Dengan cepat mengurangi lemak tubuh dan juga mempercantik kulit anda. Dengan formula unik antara acai berry dan ramuan ramuan china terpilih. Turun 3 kg atau lebih dalam 1 minggu. isi 30softgel untuk 30hari.. Price 150.000
4. Krim Wallet untuk wajah.
60%murni trbuat dr iler sarang walet asli.
hsilnya positif
1paket cream pemutih wallet bermanfaat untuk:
• Menghilangkan flek-flek hitam yg tebal
•Menghilangkan jerawat
•Memutihkan dan mencerahkan wajah
•Mengecilkan pori-pori wajah
•Mengencangkan wajah
•Menjaga kecantikan kulit wajah agar wajah tetap bersih,halus,bercahaya,awet muda dan bebas dari flek hitam.
1paket isi cream pagi,mlem,sabu,dan antialergi
ukuran walet 20gram.(ukuran bsar) Rp.235rb
5. Zamian gold cacao
Rp.180rb
Label:
creamwallet,
hoodia,
krimmuka,
masker,
zamian
2011-05-30
Langganan:
Postingan (Atom)