2015-01-20

Sewindu cinta

Aihhh romantis amat ya judulnya?? Ehem ini terinspirasi dari kata-kata seorang teman yang mengucapkan selamat atas sewindu perjalanan cinta kami (uhuk uhuk).

Postingan ini memang telat tapi belum basi banget kan masih bulan Januari? Maklumlah, masih blogger pemula yang belum rutin nge-blog setiap harinya. Empat belas Januari, delapan tahun yang lalu, tidak banyak yang kupikirkan saat hari pernikahan itu datang. Tidak sempat berpikir mau punya anak berapa, tinggal dimana, juga detail masalah pembagian pekerjaan rumah tangga. Semua berjalan begitu saja. Percaya atau tidak, aku sama sekali belum bisa masak pada saat itu.



Bahkan ketika pertama kali mengandung, aku sempat sangat shock dan merasa belum siap. Kejadiannya begitu cepat, sebulan setelah menikah aku dilanda demam yang tak kunjung sembuh sampai-sampai hampir tes darah.  Kakak iparku yang mengusulkan agar aku membeli testpack, katanya dulu dia juga terserang demam saat hamil. Dan benarlah ternyata, taraa.....! Ibu bidan memberiku selamat atas hasil positif yang ditunjukkan alat tersebut. Dan aku? Aku hanya bisa termangu lesu sehingga bu bidan terheran-heran dan menanyakan hal yang mengejutkan, "Ibu punya suami kan?" Sontak saja aku kaget dan langsung menjawab tegas, "Iya bu, ada koq diluar" Hfff... Harusnya memang reaksi yang kutunjukkan adalah raut bahagia bukan raut sedih. Tapi aku memang sedang sakit dan merasa belum siap. Aku sampai berpikir kalau aku tidak tahu akibat dari pernikahan adalah hamil, polos banget deh.



Bayi-bayi lucu segera saja hadir dalam hidup kami. Syahdu, Nada dan Fiyya adalah bayi-bayi menggemaskan yang mmerubah perasaan cinta di dalam hatiku (dan juga mungkin suamiku). Aku yang suka merasa terabaikan oleh suamiku karena kesibukannya bekerja, lama-lama mulai terbiasa karena hari-hariku yang ramai oleh ketiga malaikat mungil kami. 

Tak ada yang lebih membahagiakan kecuali melihat kedekatan anak-anak dengan ayahnya. Bermain boneka,  bercerita, bercanda, aktivitas sederhana yang mengesankan. Suamiku telah menjadi ayah yang selalu dinanti-nanti kepulangannya.

Akupun merasa beruntung karena keinginanku agar selalu didampingi suamiku di setiap proses persalinanku selalu tercapai. Dua kali normal dan satu kali caesar selalu ada suamiku disampingku. Aku benar-benar menunggu kedatangannya, seperti saat aku hendak melahirkan Nada, Suamiku sedang dalam perjalanan ditengah hujan deras saat aku sudah hampir tak sanggup lagi menahan rasa mulas, aku terus berdoa agar suamiku tiba tepat pada waktunya. Dan saat ia datang, maka aku langsung berteriak, "Dokteeerrr, sekaraaang...!" Dokterpun dengan sigap menangani persalinanku yang bertepatan dengan adzan magrib.

Pertama kali aku memiliki ide untuk menulis buku (cikal bakal buku duetku), dengannyalah aku berdiskusi dan mencurahkan kekhawatiranku. Sebagai calon penulis buku rumah tangga (saat itu) aku dilanda beban moral bila aku tak mampu menampilkan sebuah rumah tangga yang harmonis. Tapi seiring waktu, akupun menemukan jawabannya.



Dan bukannya kami tak pernah bertengkar atau berselisih paham. Kami sering berbeda pendapat sebagaimana yang dikatakan buku, laki-laki dari Mars dan perempuan dari Venus, aku merasa itu benar adanya. Apa yang kukira baik untuk suamiku tak dirasanya begitu, sampai-sampai aku bingung mengapa kami bisa begitu berbeda? Tapi syukurlah bahwa Sang Maha Pengasaih masih menurunkan rahmatNya ke dalam hati  dan menganugerahkan rasa cinta di relung hati kami. Pertengkaran membuat kami mengenal lebih dekat satu sama lain dan mengukuhkan ikatan diantara kami. Alhamdulillah.
 
 Delapan tahun yang kaya akan rasa. Ada saat angin berhembus lembut memanjakan perjalanan hati, pernah juga badai menerpa menguji kekuatan tiang-tiang cinta. 

Semoga sakinah mawaddah warrahmah dan dapat berkumpul di syurga-Nya kelak. Aamiin. 


2015-01-19

Salah siapa? Komik Manga atau Orang Tua ?

Heboh berita seputar kejadian yang menimpa anak-anak belakangan ini memang cukup mengkhawatirkan. Setelah berita yang berkaitan dengan kejahatan seks pada anak kini ditambah adanya kejadian anak bunuh diri. Sebagai orang tua yang pernah jadi anak, saya memahami bahwa semua kejadian yang menimpa anak adalah dikarenakan apa yang dirasa, dilihat, didengar si anak tersebut. Tak bisa menyalahkan yang satu dan mengabaikan yang lain. Menurut saya, benar juga kalau menyalahkan komik manga. Dan juga tidak salah kalau orang tua harus introspeksi diri.

Ok soal komik manga, Mengapa saya bilang ada salahnya? Karena saya dulu juga penyuka komik manga dan saya pernah berpikir kalau bunuh diri situ sesuatu yang perlu dicoba. cuma gara-gara dimarahi sedikit oleh orang tua, saya sempat berpikir kalau saya tidak ada barulah mereka menyadari kehilangan saya. Tapi tentu saja, saya gak se-desperate dan ga se-serius anak tersebut dalam melakukan percobaan bunuh diri. Beruntunglah sekarang ini banyak buku edukasi yang lebih patut dibaca anak-anak sehingga anak saya tidak saya berikan komik manga. Si sulung Syahdu asyik sekali membaca buku seri pengetahuan "Aku Ingin Tahu Mengapa ...." terbitan Grolier. Boleh dibilang hampir seluruh aktivitas anak-anak terpantau oleh saya atau ayahnya atau kedua eyangnya. Saat mereka bermain, menonton, main game dan apapun yang dilakukan di rumah dan sekitarnya. Aktivitas diluar itu hanyalah sekolah.

Tadi saya sempat menyinggung soal peran orang tua dibalik alasan anak bunuh diri. Yup, anak-anak tentu tak setegar orang dewasa dalam menghadapi masalah. Orang dewasa pun terkadang juga merasa depresi, tertekan dan ingin hilang dari bumi bila menghadapi masalah yang berat, apalagi anak-anak? Dipermalukan orang tua di depan teman-teaman, dimarahi hanya karena pulang terlalu sore, diacuhkan tak pernah ditanya kegiatannya sehari-hari, tak ditemani pada momen-momen berkesan, menghadapi ketidakharmonisan orang tua atau hal lainnya yang membuat anak merasa tidak nyaman dan tertekan bisa menjadi pemicu pikiran untuk benar-benar hilang dari bumi.

Saya memilih menjadi orang tua yang sering bertanya tentang kegiatan anak-anak saya sehari-hari. Saya bertanya dengan detail dan tidak merasa puas dengan jawaban sekedarnya. Karena anak-anak suka menutupi yang dianggapnya rahasia. Misalnya saat saya bertanya pada Syahdu, "Tadi di sekolah ada kegiatan apa saja?", "Apa ada yang nakal sama abang?", "Apa abang nakal sama teman?", "Apa abang berantem sama teman?" Atau saat saya melihat Nada langsung pergi menjauh saat ada seorang anak tetangga melintas di depannya, saya langsung bertanya, "Kenapa kakak tidak mau main?", "Apa ada yang nakal sama kakak?", awalnya Nada cuma diam tapi akhirnya dia mengatakan alasan yang sebenarnya yaitu bahwa temannya tersebut suka memelototi dia dan berkata kasar. Tentu saja tak sampai disitu, saya perlu membangun rasa percaya diri dan memberikan solusi agar ia mampu membentengi dirinya dari perilaku yang tidak baik dari siapapun.   Pastinya tidak serta-merta langsung PD, tapi karakter itu perlu terus didorong.

Kembali soal perlakuan tidak menyenangkan orang tua pada anak, sebagai orang tua pasti saya pernah memarahi mereka. Tapi saya pastikan bahwa marah saya itu berdasar bukan pelampiasan. Alhamdulillah anak-anak mengerti meskipun bundanya marah namun tetap sayang kepada mereka. Biasanya selepas marah, saya memeluk dan memberitahu alasan saya marah sambil menasihati mereka baik-baik.

Ilmu agama adalah bekal yang sangat diperlukan bagi siapapun tak terkecuali anak-anak. Memberikan mereka pengetahuan agama merupakan upaya membentengi mereka dari hal-hal yang tidak baik. Do'a selalu menjadi senjata dan perlindungan yang paling ampuh dalam menangkal hal buruk apapun. Hanya pada Allah-lah kita memohon perlindungan, hanya Dia-lah sebaik-baik penjaga, Dia-lah yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui segalanya.

“Robbi hablii minash shoolihiin”

Artinya: "Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih." (QS. Ash Shaffaat: 100).

 "Rabbij'alnii muqiimash shalaati wa min dzurriyyatii rabbanaa wa taqabbal du'aai. Rabbanagh firlii wa liwaa lidayyaa wa lilmu-miniina yauma yaquumul hisab"

Artinya: "Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do'aku. Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab."(Q.S.Ibrahim:40-41)






“Robbi hablii minash shoolihiin”
[Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih]. (QS. Ash Shaffaat: 100).
- See more at: http://kaifahal.com/doa-meminta-keturunan-yang-shalih/#sthash.5ANv6gi5.dpuf
“Robbi hablii minash shoolihiin”
[Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih]. (QS. Ash Shaffaat: 100).
- See more at: http://kaifahal.com/doa-meminta-keturunan-yang-shalih/#sthash.5ANv6gi5.dpuf
 

2015-01-18

Me Time ?? Perlu ngga sih??

Saya tergelitik dengan postingan seorang teman FB tentang me time yang dianggap menyalahi syari'at oleh seorang Ustadz. Menilik dari pertanyaan yang diajukan penanya (yang ternyata seorang laki-laki) dan jawaban yang diberikan oleh sang Ustadz, nampaknya ada perbedaan persepsi mengenai me time itu sendiri dan pengertian me time yang dimiliki oleh sang Ustadz. Maksudnya gini, bisa jadi sang Ustadz ga paham kalau me time yang dimaksud itu cuma simple, kayak waktu untuk sekedar membaca buku, nge-blog, nge-teh dll. Karena yang ditanyakan si penanya itu contoh me time adalah hang out bareng temen tanpa suami dan anak serta aktivitas yang dilakukan istri sebelum menikah. Nah, ga nyambung khaann???!!

Kalau istri yang baik (seperti para pendaftar GA buku duetku :D) pastilah mikir 1000x buat hang out tanpa anak (kalau tanpa suami sih masih mungkin yaa, kan suami kerja). Apalagi kalau hang out-nya itu sampai nginap berhari-hari, liburan sendiri, hehe ga mungkin kaaannn?? Coba deh liat ibu-ibu komunitas FB kalau kopdar, pasti deh pada bawa anak. Secara kalau ibu-ibu itu suka banget mamerin anaknya wkwkwkwk.

Nah, kalau menurut saya me time itu ya perlu bangeett... Ngerasain banget deh yang namanya penat ngurusin tiga anak (dengan 1 bayi) plus berbagai kerjaan rumah tangga sampai ga keburu buat makan dan lupa minum, wewww. Well, kalau suami ada di rumah bolehlah sesekali tolong jagain anak 2 jam aja misalnya buat pergi ke salon di depan gang atau baca buku atau ngeblog atau ke bioskop bareng temen? Lebih bagus lagi kalau masih punya saudara dekat lainnya yang bisa diandalkan buat nitipin anak :D Bisa pergi berduaan deh sama suami, asik kan?

Alhamdulillah meski sudah punya anak tiga, saya masih bisa tidur 5-7 jam sehari, masih bisa nonton drakor kesayangan, masih bisa sesekali ke salon atau ngerujak bareng temen bahkan melakukan hobi saya bersama komunitas. Memang sih, jadinya ga perfek kerjaan rumah saya, misalnya kalau siang pastilah rumah itu dalam keadaan berantakan. Rapinya itu cuma pagi n sore. Trus saya juga jarang masak, karena kalau sudah masak ya ga sempet nyuci dan nyetrika. Kadang saya juga merasa 24 jam itu kurang banget buat saya, dan suka merasa hopeless dengan tumpukkan baju kotor, tapi ternyata kalau dikerjain perlahan tapi pasti ya selesai juga koq.

Alhamdulillah, suami mau dengan senang hati jagain anak-anak kalau saya lagi perlu me time. Dan kalau weekend, ada sepupu yang suka "nyulik" anak-anak ke rumah mereka. Belum lagi eyangnya yang juga sayang banget sama cucu-cucu semata wayang.

Pesen saya, waktu untuk tidur itu penting jangan kurang dari 5 jam deh. Soalnya kalau kurang tidur jadi kliatan di wajah dan jadi lebih sensi, kasian anak-anak kalau ibunya ngomel mulu. Hiruplah udara segar di pagi hari atau selepas hujan, hmmm segaaarrr! Me time saat anak tidur juga bisa koq. Apalagi sekarang sudah ada fasilitas medsos, jaman dulu punya anak 1 belum ada nih. Me time bareng anak juga bisa. Turunkan standar kerapihan rumah, supaya kita juga ga terlalu lelah. Kesehatan seorang ibu lebih penting dari apapun, jadi... makan yang bergizi dan tepat waktu ya bun...



Pemenang Give Away Buku "agar dicintai Suami Layaknya Sayyida Khadijah"

Sebelumnya saya mohon maaf karena tidak berkomunikasi dengan baik di blog ini. Tapi semua tulisan peserta sudah saya baca dan banyak menginspirasi saya. Karena banyaknya peserta saya sampai tidak sempat komen di masing-masing blog, hape saya suka nge-hang dan low batt. 
 
Pengumuman pemenang sudah saya sampaikan lewat facebook dan baru sekarang sempat saya upload disini (semoga saja ke depannya, saya lebih aktif nge-blog yaaa kayak ka Niar my soulmate).
 
Dan … inilah 6 pemenang GA Istri yang Baik:
Pemenang 1: Rhyantd, Bidadari Duniaku
Hadiah: Buku ADSLSK + gamis cantik + 1 buku dari saya + 1 bros corn craft cantik
Pemenang 2: 34. Edi Padmono, Keberuntunganku Adalah Menikahinya
Hadiah: Buku ADSLSK + 1 set buku Ippho (dari http://www.leadermymart.com/?id=Star01) + 1 bros corn craft cantik
Pemenang 3: Rina Susanti, Buah Keikhlasan Seorang Istri
Hadiah: Buku ADSLSK + mukena lukis + 1 buku dari penerbit BIP
Pemenang 4: Diena Rifa’ah, Menakar Standar Istri yang Baik
Hadiah: Buku ADSLSK + 2 buku dari penerbit BIP + 1 bros rajut cantik
Pemenang 5: Ade Anita, Semua Istri Baik, Hanya …
Hadiah: Buku ADSLSK + 1 sarung + 1 buku BIP
Hadiah: Buku ADSLSK + baju koko anak/remaja
Selamat kepada para pemenang. Diharapkan para pemenang mengirimkan data berupa alamat dan nomor telepon di alamat e-mail mugniarmarakarma[at]gmail[dot]com atau melalui inbox FB saya.
Kepada semua peserta yang telah berpartisipasi, sekali lagi saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya ya. Mudah-mudahan kami bisa menyelenggarakan kuis buku ini setelah ini. Pantau infonya di fan page Buku Agar Dicintai Suami Layaknya Sayyida Khadijah.

(InsyaAllah saya dan K Niar akan bikin kuis buku lagi di bulan Februari atau Maret, tunggu yaa... masih ada stock hadiah nih.)
Share