2015-02-07

Katakan, apa impianmu?

Impian adalah sesuatu yang memag wajib dimiliki manusia. Bedanya impian yang berupa angan-angan semata dengan cita-cita adalah bagaimana kita merencanakannya agar impian dapat tercapai. Saya mempercayai bahwa impian ataupun cita-cita dapat diraih dengan usaha dan juga doa.

Sewaktu SMA saya pernah berharap dapat menyumbangkan piala meski sebuah saja untuk sekolah. Pendek cerita, saya berhasil menyumbangkan sebuah piala pada lomba karya tulis ketiga yang saya ikuti. Saya memang berhasil meraih juara pertama pada ajang yang pertama, tapi lomba tersebut tidak menyertakan piala sebagai hadiahnya, sementara pada lomba kedua saya gagal. Saya tidak sadar dengan usaha macam apa yang telah saya usahakan. Saya hanya menebak-nebak,  mungkin karena terbiasa menyusun proposal kegiatan. Waktu itu saya aktif sebagai sekretaris OSIS.

Selanjutnya banyak impian saya yang terwujud satu per satu, diantara  yang paling berkesan ialah ketika saya berhasil memosisikan diri sebagai penulis. Buku duet saya dengan kak Mugniar berhasil diterbitkan oleh sebuah penerbit mayor dan tersebar sebanyak 3000 eksemplar di seluruh Indonesia. It's amazing! Ini terjadi setelah selama sepuluh tahun hanya memendam di dalam hati ditambah tiga tahun berusaha menekuni bidang menulis.

Hidup dari satu cita-cita menuju cita-cita lain yang lebih besar membuat hidup menjadi lebih dinamis, bersemangat dan tentunya memiliki tujuan. Impianku sejak setahun yang lalu semenjak suamiku bolak-balik putus kontrak dari satu perusahaan ke perusahaan berikutnya adalah memiliki usaha sendiri. Usaha macam apa? Online shop sekarang ini sudah semakin menjamur, agak sulit untuk bersaing sekarang ini. Belum lagi waktu yang banyak tersita untuk melayani chit chat dengan calon pembeli, packing, belanja dan kirim barang. Untuk ibu yang memiliki bayi berusia satu tahun yang terus bertumbuh-kembang itu semua terasa menyita waktu. Saya terus berpikir usaha apa yang cocok dan bermodal kecil?

Usaha yang mengandalkan keahlianku dan suamiku, itulah yang kami pilih. Keahlian suamiku di bidang desain grafis, desain web, programming, perbaikan komputer hingga instalasi jaringan tak perlu diragukan mengingat latar belakang pekerjaannya yang memang di bidang tersebut. Dan mungkin ini memang petunjuk dari Allah bahwa wirausaha merupakan jalan yang harus kami tempuh. Kebanyakan orderan memang dari teman-teman dan kerabat, mulai dari desain logo, desain web, memperbaiki laptop ingga instalasi jaringan di kantor maupun sekolah. Seiring waktu  keseriusan mengembangkan usaha semakin bertambah, tentu saja saya pun mengimpikan kami dapat memiliki kantor sendiri, atau setidaknya sebuah ruko yang memampangkan nama perusahaan kami (cieee....). Aamiin.

Rencananya di ruko tersebut kami akan membuka jasa perbaikan komputer dan aneka IT solution. Tak hanya itu saya juga berniat untuk mengadakan pelatihan IT untuk komunitas-komunitas pelajar yang berminat. Mewujudkan impian ini berarti mengandalkan sekaligus menguji kemampuan kami dalam mengelola seuah usaha sendiri. Tak lagi bertumpu pada usaha orang lain, menunggu panggilan kerja kemudian menanti tanggal gajian :D Ini juga berarti besar kemungkinan bagi kami untuk membuka lapangan kerja baru bagi orang lain. Ini adalah sebuah cita-cita yang memerlukan waktu dan juga materi yang perlu kami sediakan. Saya percaya, belajar dari setiap impian yang pernah terbersit dalam hati,bahwa Allah akan menunjukkan dan membuka jalan bagi kami meraih impian ini.

Dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan, ungkapan yang memang benar adanya. Semoga saja apa yang telah saya dan suami upayakan agar tahun ini kami dapat membuka usaha kami secara resmi dapat terwujud. Aamiin. Dan semoga kelak saya dapat berlanjut mencita-citakan hal yang lebih besar lagi seperti memiliki sebuah perusahaan IT ternama.

Itulah tadi impian-impian saya yang sudah terwujud dan yang akan (saya harapkan) segera terwujud tahuun ini. Jadi katakan, apa impianmu?




2015-02-02

Tegar di atas luka

Setiap orang pasti memiliki masa suram, entah itu hanya sekali, dua kali atau beberapa kali. Saya pikir saya termasuk orang yang beruntung. Masa kecilku cukup bahagia, memiliki orang tua yang hidup berkecukupan, tak merasa kekurangan. Prestasi di sekolah pun terbilang cukup baik, selalu menduduki peringkat lima besar sampai dengan SMA, bahkan pernah juga meraih juara umum saat SMP. Saya juga tidak pernah merasa di-bully, baik oleh teman maupun guru. Semua guru berlaku baik, mungkin karena prestasiku yang terbilang baik di sekolah. Semua kehidupan yang kujalani terasa hampir sempurna, beberapa masalah sepele saja tak begitu mengganggu, kecuali tentang seorang anak laki-laki yang begitu ngotot "mengejar-ngejar" saya saat sekolah dulu (pfiuhh). Tapi semua itu tak mengganggu kecuali sedikit saja. Hingga pada suatu masa...

Saya tak berencana menceritakan kejadian suram yang sempat kujalani selama kurang lebih empat tahun. Disinilah ujian hidup bermula, menuntut kedewasaan seorang remaja yang baru saja akan beranjak dewasa. Waktu itu saya baru saja menadi seorang mahasiswi. Tiba-tiba saya menjadi seorang diri, tak ada kawan untuk saya bercerita. Saat itu saya merasa tak ada seorang pun yang boleh saya percayai. Dalam keadaan terpuruk seperti itu, rasanya luar biasa sekali saya masih dapat menjalani hari-hari  dengan wajar sebagai seorang anak, mahasiswi dan bekerja sebagai seorang guru. 

Bullying, tiga belas oh tidak bahkan sepuluh tahun yang lalu kata itu belum populer seperti sekarang ini. Saya diam dengan semua tekanan dan tuduhan yang dilemparkan pada diri saya. Mungkin mereka merasa yang mereka lakukan itu benar dan baik untuk diri saya. Tapi kenyataannya, sebenarnya mereka hanya memperparah kondisi psikis saya saat itu. Syukurlah Allah subahanahu wata'ala masih memberikan kekuatan agar saya mampu melalui tahun-tahun terberat dalam hidup saya. Tapi saya bersyukur mampu melalui masa-masa suram itu hingga saya mampu berdiri sendiri. Lulus kuliah dengan cepat, mendapatkan pekerjaan yang baik sesegera mungkin kemudian menikah adalah target utama saya yang mampu membuat saya bertahan.

Yup itulah kuncinya! Saya menggantungkan harapan  akan masa depan. Saya menatap ke depan dan saya berkata, "Vina, kamu pasti bisa melalui ini dan meraih kebahagiaan seperti yang kamu inginkan!" Saya berdoa pada Dia Yang Maha Berkehendak, "Ya Allah mohon Engkau izinkan aku meraih apa yang kuinginkan dan memperbaiki segalanya, atas terkabulnya doaku ini maka aku berjanji akan memaafkan semua kesalahan orang-orang yang bersalah padaku." 

Saya tak mengizinkan diri saya terpuruk terlalu dalam. Kegiatan perkuliahan masih saya jalani dengan kewajaran. Salah satunya dengan turut aktif dalam sebuah  komunitas yang akhirnya memberikan banyak pengalaman juga keberuntungan. Komunitas ini dan orang-orang di dalamnya banyak berjasa dalam hidupku, mereka menjadikanku berarti. Teman-teman yang menjadi saksi tumpahnya airmata namun tak pernah memaksa bertanya sebabnya. Disini juga kutemukan jalan menyalurkan hobi menulis. Bermula dari buletin komunitas yang dibagikan secara cuma-cuma kepada sesama mahasiswa-mahasiswi hingga kesempatan menulis artikel secara berkala untuk sebuah majalah nasional ternama. Tak hanya itu, pekerjaan terhormat pun kudapatkan dengan mudah sebulan setelah lulus!
  
Well, setelah semua tangis dan perasaan hampir putus asa, inilah sebuah happy ending dalam hidupku.. Pernikahan sungguh-sungguh sebuah lembaran hidup baru yang mampu menghapuskan semua luka. Kupatuhi janji yang telah kuucapkan. Saya memaafkan sekaligus segan mengingat-ingat kesalahan orang-orang di masa lalu.  

Menyadari ada sesuatu yang memang salah saya tempuh dahulu. Kesalahan itu menjadikan diriku sebagai seorang manusia yang memang tidak sempurna.



Share