2016-06-13

Khadijah Ada Karena Muhammad Disampingnya



Berapa banyak suami yang menginginkan (atau menuntut) istrinya seperti Khadijah? Banyak.  Tapi berapa banyak dari para suami itu yang memperlakukan istriya sebagaimana Muhammad memperlakukan Khadijah? Jawab saja dalam hati.

Khadijah memilih Muhammad sebagai pendamping hidupnya karena akhlaknya yang mulia. Tak perlu diragukan lagi, bahkan seluruh suku Quraisy dan bangsa arab tahu bagaimana akhlak Muhammad. Seorang lelaki yang diberi gelar Al Amin karena selama hidupnya selalu berkata jujur. Seorang pemuda yang ulet bekerja mulai dari menggembala kambing hingga berdagang. Semua dilakukannya dengan tekun, tanpa mengeluh dan kerja keras sehingga membuahkan kesuksesan. 

Muhammad menerima pinangan Khadijah untuk menjadi suaminya karena Muhammad tahu dan seluruh suku Quraisy tahu ketinggian budi pekerti perempuan yang dijuluki ath-Thahirah, yang suci.  Seorang perempuan pengusaha kaya raya yang mandiri dan sukses di zamannya. 

 

Mengapa Muhammad tidak memilih menikah dengan gadis muda yang masih malu-malu dan sederhana? Mengapa bukan profil seperti itu yang dipilihkan Allah sebagai pendamping Muhammad Sang Nabi?

 

Jawabnya ada pada kisah selanjutnya, episode demi episode rumah tangga yang harus dilalui dua insan pilihan Illahi. Khadijah dengan kekayaan dan kepribadiannya mampu meneguhkan serta menguatkan perjuangan dakwah suaminya, Rasulullah shallallahuálayhi wasallam. Darinya terlahir putra-putri yang turut mendukung perjuangan dakwah ayahnya. Pengorbanan Khadijah yang luar biasa itu membuat Rasulullah tidak memapu melupakannya meski ia telah tiada dan beristrikan Aisyah yang muda, cantik dan cerdas. Aisyah pernah berkata: “Aku tidak pernah merasa cemburu terhadap istri-istri Nabi melebihi kecemburuanku terhadap Khadijah. Padahal aku belum pernah berjumpa dengannya. Biasanya ketika beliau menyembelih kambing, beliau memerintakan: “bagikanlah daging kambing ini kepada teman-teman Khadijah“. Suatu hari, kecemburuanku membuat beliau marah. Kataku, “Khadijah?” beliau lalu mengatakan, “Aku dikaruniai rasa cinta kepadanya” (HR Al Bukhari 3818, Muslim 2435). 

 

 Selepas menikah dan memiliki anak-anak, Khadijah memutuskan untuk mempercayakan seluruh usahanya pada sang suami, Muhammad Rasulullah. Khadijah percaya penuh pada suaminya karena Muhammad telah memperlihatkan kesungguhan dan tanggung jawabnya. Muhammad pun tak merasa risih menikahi seorang perempuan kaya ternama seantero Mekkah. Karena Muhammad memiliki kemampuan untuk mengelola usaha dagang milik istrinya sehingga dapat berkembang lebih baik dari sebelumnya. Muhammad sebagai seorang suami, seorang kepala keluarga telah menunjukkan profilnya sebagai seorang suami dan ayahnya yang dapat dijadikan teladan bagi seluruh umat di muka bumi. Pendeknya, Muhammad tak menyia-nyiakan kepercayaan Khadijah yang telah memilihnya sebagai suami diantara seluruh lelaki terkemuka di Mekkah. Selama dua puluh lima tahun menjalani rumah tangga Muhammad telah menjadi sosok kepala keluarga yang mengayomi istri dan anak-anaknya. Sehingga Khadijah pun merasa tenteram berada di rumahnya mengurus putra-putrinya sepenuh hati. Tak perlu mengkhawatirkan apapun persoalan dunia. Semua yang dikorbankan oleh Khadijah berupa harta benda untuk perjuangan dakwah tak pernah sia-sia bahkan berbuah hadiah istana di syurga. Abu Hurairah ra., dia berkata :"Jibril datang kepada Nabi SAW, lalu berkata :"Wahai, Rasulullah, ini Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah, makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan kepadanya salam dari Tuhannya dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga, (terbuat) dari mutiara yang tiada suara ribut di dalamnya dan tiada kepayahan." (Shahih Bukhari, Bab Perkawinan Nabi SAW dengan Khadijah dan Keutamaannya, 1/539).

 

Khadijah dan Muhammad adalah kisah tentang kesempurnaan yang tidak ada di dongeng cinta manapun juga. Kisahnya adalah kebenaran yang dapat dijadikan teladan bagi seluruh pasangan suami istri yang hendak meraih jannahNya. Khadijah ada karena Muhammad disampingnya. Muhammad yang memberikannya rasa tenteram, Muhammad yang selalu menunjukkan akhlak mulia. Begitupun Muhammad merasa tenteram disamping Khadijah yang selalu menguatkannya di kala lemah dan bimbang. Karena Khadijah mengenal, memahami dan mempercayai suaminya tersebut yang tak pernah memperlihatkan perangai buruk meski hanya sekali.  

 

Sehingga jika seorang suami merasa istrinya tidak dapat meneladani Khadijah, tanyakan pada diri sudahkah meneladani Muhammad sebagai seorang suami? Jika belum, maka berusahalah meneladani Muhammad dengan sebaik-baiknya dan bersabarlah dalam mendidik istri untuk meneladani Khadijah. Karena dakwah dapat diterima dengan ilmu dan kesabaran. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” (QS an-Nisaa’: 19).

 

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Berwasiatlah untuk berbuat baik kepada kaum wanita, karena sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk (yang bengkok), dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atas, maka jika kamu meluruskannya (berarti) kamu mematahkannya, dan kalau kamu membiarkannya maka dia akan terus bemgkok, maka berwasiatlah (untuk berbuat baik) kepada kaum wanita”.  HR al-Bukhari (no. 3153) dan Muslim (no. 1468).

 

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Janganlah seorang lelaki beriman membenci seorang wanita beriman, kalau dia tidak menyukai satu akhlaknya, maka dia akan meridhai/menyukai akhlaknya yang lain”. HR Muslim (no. 1469).

 

Dan syarat menjadi seorang suami yang baik hanya 1 (Satu) yaitu: bertakwa kepada Allah. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (dalam semua masalah yang dihadapinya), dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya(QS. ath-Thalaaq:2-3).

 

Sudahkah suami benar-benar bertaqwa? Menjaga sholat 5 waktu yang wajib, menunaikan sholat berjamaah dimasjid, dan menjalankan rukun iman serta ibadah sunnah dan kewajiban lainnya. Jika sudah maka tiada doá yang lebih indah selain doa yang terdapat dalam surat Al Furqon yang artinya:

Dan orang-orang yang berkata:

رَبَّنَاهَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَإِمَامًا 

“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam (panutan) bagi orang-orang yang bertakwa” (QS al-Furqaan: 74).

 

(sebuah renungan di awal Ramadhan, 9 Ramadhan 1437H)

 

13 komentar:

  1. doa dalam QS Al furqon ayat 74 itu selalu de baca setiap habis sholat dari mulai hamil anak pertama, sampe skrg anaknya udah mau masuk SMA.

    smoga kita bisa meneladani khadijah ya. Amin

    BalasHapus
  2. Bagus Mbak pembahasannya.. Jadi semakin penasaran sama sosok Khadijah.. Beliau pasti istimewa sekali ya.. Makasi sharingnya ya Mak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama mba, kebetulan saya dan ka mugniar menulis buku tentang menjadikan Bunda Khadijah sebagai teladan. Jadi saya suka membaca sejarah tentang Beliau. Terima kasih sudah singgah.

      Hapus
  3. Sehingga jika seorang suami merasa istrinya tidak dapat meneladani Khadijah, tanyakan pada diri sudahkah meneladani Muhammad sebagai seorang suami?

    Yup. Pernah membaca perkataan seseorang bahwa istri seharusnya bisa mengimbangi suami (dalam berdiskusi). Nah, yang dilupakannya adalah ketika dirasakan istri tak bisa mengimbanginya, seharusnya suami yang menjadi imam, memberi teladan pada istrinya. Karena memang tanggung jawabnya sebagai imam, termasuk dalam membimbing istrinya.

    Btw, dari dua hari lalu saya mutar2 di blog Vina. Adaaa saja yang bikin gak bisa komentar, baru kali ini bisa hehehe.

    BalasHapus
  4. Jadi koreksi diri baca ini. Khadijah memang wanita yang strong! Dengan menikahi Khadijah yang pandai berdagang, urusan keuangan di-handle istri. Sedangkan nabi bisa fokus dakwah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih sudah baca :) semoga bisa mengambil hikmahnya.

      Hapus
  5. selalu kagum dengan pasangan khadijah dan nabi Muhammad

    BalasHapus

Komentar baik berupa kritik maupun apresiasi baik yang sopan amat saya nantikan, terima kasih telah singgah di blog ini :)

Share