2015-12-20

Yang Istimewa di Tahun 2015



Tak terasa tahun 2015 akan segera berakhir. Banyak sudah kulalui sepanjang tahun ini. Yang suka, yang duka bahan badai pernah menerpa, syukurlah Allah menyelamatkan kami dari badai tersebut. Di dalam tahun ini aku menemukan kebaikan-kebaikan dari sahabat-sahabatku juga kerabatku. Tahun ini istimewa karena beberapa hal. Salah satunya ialah pada tahun ini tepatnya selepas Ramadhan aku menemukan ketenangan hidup di dalam hatiku. Juga suamiku yang lebih religius dari sebelumnya. Bisa dibilang kami telah menemukan konsep keluarga yag sebenarnya telah kami idam-idamkan danmenjadi tujuan pernikahan kami. Semoga Allah senantiasa membimbing kami di jalanNya. Aamiin. 

Tahun ini juga istimewa karena aku mendapatkan kabar diluar dugaanku. Sebuah kabar yang aku bingung menerimanya, harus gembira atau sebaliknya. Tanpa dinyana setelah melalui serangkaian test (tiga test online) pada bulan Februari lalu diumumkan bahwa aku berhasil lulus tes CPNS di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI tepatnya sebagai Pegumpul dan Pengolah  Data Pendidik dan Kependidikan SMK.

Tadinya aku sempat menolak ajakan seorang rekan mengajar, Bu Nurzaenah, untuk ikut mendaftar CPNS pada Oktober 2014. Tahun itu, berbeda dengan tahun sebelumnya, setiap pelamar hanya boleh memilih satu lowongan dari sekian banyak lowongan yang tersedia. Beberapa kali diajak, akhirnya aku luluh juga. 

Iseng aku bertaya kepada suamiku, “Yah, nda boleh ga ikutan tes CPNS? “ tanyaku saat itu. “Ya coba aja, memang mau melamar dimana? “, ia bertanya balik. “Di Kemdikbud aja” jawabku mantap. 

Agak tak percaya dengan jawaban suamiku yang mengiyakan pertayaan isengku. Akhirnya akupun mencari informasi mengenai lowongan yang ada di Kemdikbud. Entah megapa aku langsung mantap menjatuhkan pilihan pada posisi tersebut. Aku berpikir kalaupun nanti diterima, setidaknya aku masih bisa bertemu dengan rekan-rekanku karena pekerjaanku mengolah data mereka. Alasan lainnya ialah karena aku pernah menjadi bagian dari lingkungan Kemdikbud, dulu sebelum menikah aku pernah menjadi tenaga honor disana. 

Tes pertama dengan sedikit membaca, akupun mampu melaluinya dengan skor yang memuaskan. Tes kedua yaitu tes administrasi. Aku hanya diminta untuk mengirimkan lamaran, CV, fotocopy legalisir ijazah dan transkrip. Lainnya seperti SKCK, Kartu kuning  belum diminta. Lulus tes kedua akupun melenggang menuju tes ketiga, tes terakhir yang menjadi penentuan. Materi tesnya ialah statistik dan bahasa Inggris. Membaca kisi-kisi yang ku-download dari web, materi statistik hanya sebatas teori saja. Meskipun aku pernah mendapat materi ini saat kuliah dulu tapi tentu saja ini bukan mata kuliah yang aku sukai dan kuasai. Sebagai guru paruh waktu yang merangkap Wakil Kepala Sekolah bidang kurikulum kemudian juga seorang istri dan ibu tanpa ART, aku tak banyak memiliki waktu untuk belajar materi statistika tersebut. Kalau soal bahasa Inggris, insyaAllah masih bisa kuatasi. 

Hari itu datang. Suamiku mengantarku ke tempat tes di daerah Ciputat. Hffh... aku memang tidak terlambat, tapi aku peserta terakhir yang datang di kelompokku. Para peserta tes dibagi menjadi lima bagian. Terbukti, panitianya sampai tahu namaku. Tes pun dimulai dan aku sempat panik karena pulpenku habis tintanya. Dan pensil yang kubawa, copot. Sementara tidak ada alat peraut. Untunglah ini dikerjakan secara online. Selembar kertas putih yang disediakan panitia di mejaku bersih tak terjamah. Soal demi soal statistika kukerjakan dengan bekal cap cip cup saja. Percuma juga soalnya kebanyakan hitungan yang rumusnya saja aku tidak tahu. Waktu yang diberikan hanya 1.5 menit per soal. Tes pun berakhir dan aku hanya bisa merutuki diri sendiri.

Kesialan yang kualami kala menjalani tes terakhir itu ternyata malah berbuah sebaliknya. Aku dinyatakan lulus. Berita kelulusan inipun hampir tidak kuketahui. Sempat membaca hasil kelulusan di web Kemdikbud namun aku tak melihat ada namaku tertera disitu. Hari-hariku pu kembali seperti biasanya. Tak ada perasaan kecewa karena tidak lulus tes. Aku menganggapnya biasa saja.  Dua minggu berlalu, suamiku yang belakangan ini memang rajin memeriksa emailku, karena kepentingan proyek dari temanku, memberitahukanku perihal kiriman email dari Kemdikbud. Dalam email itu diberitahukan bahwa aku lulus dalam Tes CPNS sehingga harus melakukan pemberkasan yang dilakukan seminggu dari tanggal diterimanya email ini. Aku ingat hari itu Rabu siang sekitar pukul satu. Berkas yang harus disiapkan cukup banyak. Surat Keterangan Bebas Narkoba dan Surat Keterangan Sehat dari RSUD, SKCK dan fotocopy ijazah dari SD hingga Univeritas. Haduh berita yang mendadak ini membuatku mengatur sejumlah rencana. 

Kamis itu tanggal merah yang artinya semua yang berbau pemerintah pasti tutup. Sehingga aku baru bisa mengurus semua surat di hari Jum’at yang mana batas jam operasional lebih cepat yaitu hanya sampai pukul sebelas siang. Akupun memanfaatkan waktu yang ada untuk menulis surat lamaran yang harus ditulis tangan tiga rangkap dan berkas-berkas  lainnya.  Bapakku meminta kepada Pak RW untuk membantu mengurus administrasi yang kuperlukan seperti surat keterangan dari RT, RW dan Lurah. Jumat pukul tujuh pagi aku tiba di RSUD Cikaret, nomor antrian yang kudapatkan hampir saja habis. Fiuhhhh. Setelah bolak-balik selama hampir empat  jam ke loket sana ke loket sini aku berhasil mendapatkan Surat Keterangan Sehat dan Bebas Narkoba. Legaaa rasanya. Selanjutnya ialah mengurus SKCK. 

Akupun langsung menuju Polres Depok. Selepas sholat Jum’at loket pun buka. Pak Polisi yang bertugas saat itu cukup ramah. Ia memberitahu kalau pendaftaran formulir permohonan sudah tutup. Setelah menjelaskan keadaanku, ternyata aku tidak perlu membuat SKCK baru, mengingat aku sudah pernah membuat. Aku hanya perlu membawa SKCK lama yang asli untuk kemudian dibuatkan yang baru. Dan prosesnya tidak lama hanya sepuluh menit saja. Setelah mendapat penjelasan itu akupun laega karena itu artinya aku bisa melakukannya pada hari Senin pagi sekalian berangkat ke Kemdikbud untuk menyerahkan berkas. Bukan apa-apa, pada hari Selasa dan Rabu aku bertanggung jawab melaksanakan Uji Kompetensi Kejuruan bagi siswa-siswi di SMK. 

Alhamdulillah semua berjalan lancar. Aral yang melintang dapat teratasi. Hanya saja setelah pemberkasan itu aku dan rekan-rekan yang dinyatakan lulus CPNS masih harus bersabar menunggu turunnya NIP dan SK. Sebagian dari rekanku sudah mulai masuk kerja pada November lalu. Sementara aku bersama sembilan orang lainnya masih harus menunggu panggilan di bulan Januari. Keterlambatan ini dikarenakan adanya perubahan susunan di Kemdikbud. Seperti yang kita ketahui ada Dirjen baru yaitu Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan. Sehingga aku dan teman-teman yang seharusnya di tempatkan di Direktorat Menengah dipindah ke Dirjen GTK tersebut.

Aku percaya Allah memiliki skenario yang lebih baik. Dalam penantian ini aku tetap memiliki kesibukan. Yayasan dan Kepala Sekolah masih mempercayakan jabatan yang telah kusandang selama tiga tahun lebih. Mereka menerima konsekuensi bila aku harus keluar secara mendadak. Dan aku bersyukur bahwa aku telah menyelesaikan semester ini. Begitupun dengan anak-anak, aku bersyukur masih bisa menemani mereka dalam momen-momen khusus. Misalnya mengantar Nada Lomba ke Ancol bersama teman-teman TK. Aku berharap apapun kesibukan yang kualami nanti, semoga aku masih dapat menjadi seorang ibu yang ada dalam momen-momen khusus anak-anakku. Semoga apa yang kujalani kelak membawa kebaikan bagi keluargaku. Karena barangkali inilah salah satu jawaban dari doa-doaku dahulu.  


Ketika segalanya serba terbatas

Anak muda....

Menikahlah sebelum mapan. Agar anak-anak anda dibesarkan bersama kesulitan-kesulitan anda. Agar anda dan anak-anak anda kenyang merasakan betapa ajaibnya kekuasaan Allah.

Jangan sampai anda meninggalkan anak-anak yang tak paham bahwa hidup adalah perjuangan.
(Adriano Rusfi, Psikolog)

Hidup dalam kesederhanaan maupun keterbatasan tidak pernah kucita-citakan.  Aku dan suamiku memang memulai segalanya dari nol. Kami menikah dengan modal yang kami bawa sendiri. Saat itu usiaku baru dua puluh dua tahun dan suamiku dua tahun lebih tua dari usiaku. Setiap saat aku selalu optimis bahwa kehidupan kami di masa yang akan datang akan lebih baik dan lebih baik lagi. Meski kenyataan tak seindah impian, perjalanan hidup banyak memberiku pelajaran berharga. Hingga kutemukan kata-kata berharga ini dari postingan yang dibagikan seorang teman facebook. 


Dalam delapan hampir sembilan tahun pernikahan ini, tiga anak terlahir dari rahimku. Bagi kami, mereka adalah anak-anak istimewa yang dikirimkan Allah kepada kami. Berkaca dari masa kecilku yang bahagia dan tak pernah kekurangan, aku berupaya memenuhi  kebahagiaan masa kecil anak-anak kami. Pernah aku bersedih karena merasa tak mampu memberikan mereka yang terbaik, bersedih  bahwa mereka harus melalui hal-hal yang tak pernah aku lalui di masa kecilku dulu. Tapi sekali lagi mereka adalah anugerah teristimewa dariNya.


Kisahku bersama Syahdu (8tahun, kelas 3 SD)


Di suatu siang sepulang sekolah aku mendapati bau tak sedap di rumah. 

“Hmm ini bau apa ya bang?” tanyaku pada Syahdu yang baru pulang sekolah. “Oh ini mungkin bau kakiku bun, karena basah sepatunya” jawab Syahdu. 

Glek! Aku agak tertohok, anakku bersekolah menggunakan sepatu basah? Langsung saja kulihat sepatunya yang tergeletak di depan pintu. Sepatu yang dibeli tujuh bulan lalu sudah lepas bagian dalamnya, mungkin karena sering kehujanan. Sore itu akupun membelikan Syahdu sepatu baru, ini tidak masuk ke dalam perencanaan pengeluaran sehingga aku hanya membeli sepatu yang harganya sesuai dengan budget yang ada. Syukurlah ada sepatu dengan model yang cukup bagus dengan harga yang terjangkau.

 “Bang, ini sepatunya dicoba dulu muat atau tidak,sementara pakai sepatu ini dulu ya. Kalau nanti bunda atau ayah ada uang lagi, insyaAllah kita beli yang lebih bagus dan mahal” jelasku kepada Syahdu, khawatir ia tidak menyukai sepatu yang kubeli. Tapi apa jawabnya? “Gak apa-apa bunda, ini juga sudah bagus, aku suka kok” tukasnya riang. 

Nyess... anakku, lihatlah wajahnya tak sedikitpun menyiratkan kekecewaan, yang ada hanyalah mimik gembira karena dibelikan sepatu baru. Aku membandingkan dengan anak dari salah satu kerabatkku yang maunya dibelikan sepatu maupun baju bermerk saja. 


Dalam kesempatan lain,  ibuku menceritakan tentang Syahdu kepadaku. Ia menawarkan kepada Syahdu untuk dibelikan sepatu baru dan ia menjawab tidak usah karena sudah punya. Pernah juga ia hendak diberikan eyangnya uang jajan sebesar lima ribu rupiah namun ia menolaknya. 

Katanya, “aku sudah diberikan bunda uang dua ribu” Eyangnya sampai harus memaksanya untuk menerima uang tersebut.  Pernah juga saat ditawari eyangnya mau makan apa, ia hanya menjawab , “apa saja yang ada di rumah ini”. 

Kami tertawa lucu menceritakan kelakuan polos Syahdu.  Sungguh ia bukan anak yang banyak menuntut. Sehingga ketika suatu kali, selepas mengambil hasil raportnya yang dipenuhi angka 90,  ia minta dibelikan mainan akupun menyanggupinya. Kukira ia akan meminta mainan dengan harga lebih dari seratus ribu rupiah, mainan mahal yang diidam-idamkan banyak anak. Tahukah apa yang diinginkannya? Ia hanya ingin dibelikan mainan LEGO seharga TIGA PULUH LIMA RIBU rupiah saja! Padahal aku sudah mengira ia akan meminta dibelikan mainan mobil remote control atau sejenisnya.  Ah Syahdu, bunda  beruntung memilikimu nak.



Itu hanyalah sekelumit cerita diantara sekian banyak cerita kesederhanaan anak-anakku.  Dalam beberapa hal seperti membeli baju, mainan ataupun jajanan aku memang membatasi mereka. Syahdu hampir tidak pernah membawa uang ke sekolah. Ia hanya membawa bekal yang aku bawakan untuknya kecuali di saat-saat tertentu. Namun ia bebas mengatakan bila ia perlu atau ingin sesuatu.  Kami, terutama aku ibunya, berusaha menjalin komunikasi yang baik dengan anak-anak. Prinsip kami, orang tua adalah orang yang harus dihormati dan dipatuhi bukan untuk ditakuti oleh anak-anaknya. Syahdu pun memahami jika tidak dibelikan sesuatu bukan berarti kami pelit. Ada alasan yang kami ungkapkan kepadanya. Misalnya ketika ia minta dibelikan sepeda, kami menyetujuinya hanya saja ia harus bersabar menunggu sampai uang tabungannya cukup. Ketika uangnya cukup kamipun membelikannya sepeda sesuai budget yang ada. Anak-anak harus mengetahui dan diajak untuk dapat memahami alasan orang tuanya. Karena jika mereka tidak memahaminya kemudian membandingkan dengan orang tua temannya maka anak tersebut kehilangan rasa bersyukur. Yang ada hanyalah gerutuan karena tidak diberikan apa yang diinginkannya. 


Betapa sedihnya jika kita mendengar keluhan seorang anak tentang mengapa ia harus dilahirkan dalam keadaan serba terbatas (ekonominya). “Kenapa sih, aku harus dilahirkan pas keadaan sulit?” Aku mengenal anak yang mengatakan hal seperti itu dan aku tahu bahwa keadaannya jauh lebih baik dibandingkan keadaan anakku. Setidaknya anak itu kuketahui masih bisa bersekolah dengan baik, menempati rumah yang layak, memakai baju-baju bermerk. Namun karena ada komunikasi yang tidak terjalin antara anak tersebut dengan orang tuanya sehingga keluarlah kalimat keluhan itu. 


Orang tua pun harus memahami yang menjadi keinginan serta kebutuhan anak-anaknya. Jika memang yang diinginkan itu masih dalam batas kewajaran kemudian orang tua mampu membelikannya, aku rasa tidak ada alasan bagi orang tua untuk tidak memenuhi keinginan mereka. Jika kedua hal itu berjalan selaras, insyaAllah hubungan orang tua dan anak akan tetap harmonis dalam keadaan apapun. 


Apapun yang kami, aku dan anak-anakku, alami saat ini, semoga menjadi sebuah kebaikan di masa yang akan datang.  Aamiin.

2015-12-09

Serunya belanja online



Sejak social media semakin mem-booming, situs-situs belanja online pun semakin banyak bermunculan. Begitu juga dengan online-shop semakin banyak menjamur. Boleh dibilang saya termasuk orang-orang yang melakukan transaksi belanja online, baik sebagai penjual maupun sebagai pembeli. Awalnya memang hanya sebagai pembeli hingga kemudian seorang teman menawarkan untuk menjualkan item barang yang dijualnya. Ternyata respon dari pembeli lumayan baik mengingat item barang yang saya jual memang tergolong baru dan unik. Saya pun mulai merambah barang jualan lainnya dan tidak mengandalkan kerjasama dari teman saya itu saja. Saya mencoba membeli barang jualan di sebuah pasar grosir ternama. Jarak tempuh yang memakan waktu kurang lebih dua jam ditambah dengan ketidaknyamanan karena harus berdesakan di kereta membuat saya kelelahan. Untung saja saya tidak sengaja bertemu dengan seorang distributor item barang yang saya jual di pasar itu. Setelah bertukar pin BB, kamipun berpisah. 

Awalnya memang ada keraguan tapi...tak ada salahnya mencoba, begitu pikir saya. Belanja di pasar grosir mengharuskan saya membeli item barang secara lusinan dengan warna yang tidak bisa saya pilih. Sementara pembeli seringkali menyukai warna tertentu yang sama sehingga selalu ada sisa untuk warna lain yang jarang disukai orang. Belum lagi jika ada pesanan mendadak sementara saya sedang sibuk atau sakit. Sayang sekali kan kalau harus menolak pesanan? Ah satu lagi, kalau ada barang yang rusak atau cacat, duh gak kebayang deh kalau harus jauh-jauh untuk sekedar menukar barang tersebut. Alhamdulillah transaksi demi transaksi berjalan mulus. Pembeli merasa puasa dengan kualitas barang yang saya jual demikian juga dengan garansi boleh ditukar jjika ada cacat. Bahkan saya pernah mengirim pesanan barang tersebut ke Taiwan. Supplier juga kadang tak sungkan untuk mengirim barang yang saya pesan meski saya belum membayarnya. Ini karena jalinan kepercayaan yang kami bangun. Tak terasa lebih dari lima tahun saya menjalani bisnis ini. 

Saya mulai mengurangi aktivitas menjadi penjual online sejak hamil anak ketiga pada 2013 lalu. Belanja online memang mudah tapi bagi penjual masih ada pekerjaan lainnya yang cukup menyita waktu. Ketika barang sudah datang maka kewajiban penjual mengecek setiap barang tersebut. Kemudian mengepaknya sesuai pesanan. Bagian inilah yang membuat saya cukup keteteran. Akhirnya dengan berat hati saya pun mengikuti saran suami untuk mengurangi aktivitas jual online tersebut. Saya tidak lagi memasang iklan jualan. Hanya teman-teman yang sudah menjadi langganan yang saya layani. 

Meski saya sudah mengurangi aktivitas menjadi penjual online tapi saya tetap hobi belanja online. Banyaknya kemudahan transaksi online membuat belanja onine menjadi cepat dan mudah. Kesibukan mengurus suami, tiga anak dan juga mengajar di sebuah SMK membuat saya sulit untuk berbelanja ke Mall. Situs-situs belanja online pun banyak menawarkan kemudahan dan juga diskon yang bikin mata gak bosan-bosan nyari barang yang disukai dengan diskon yang paling oke. Biasalah ibu-ibu  gak boleh ihat diskon langsung deh lupa diri hehehe. Apalagi kalau yang didiskon itu gamis-gamis cantik dan aneka HijUpcantik. Sebagai perempuan kepingin juga dong tampil dengan busana yang elegan dan gak pasaran. Yang namanya milih-milih pastinya tetep berlaku dimana aja, tapi gak bikin kaki pegel karena harus keliling mall buat nyari yang diskonnya paling oke. Dan juga gak harus merasa gak enak hati kalau baju yang dicari tidak cocok modelnya ataupun harganya.  Cukup dengan ketik nama situs yang diinginkan kemudian klik selesai deh transaksinya. Tinggal tunggu barangnya datang. Dukungan dari perbankan pun sudah semakin canggih, kita gak perlu ke atm untuk sekedar transfer pembayaran beanja online. Kita bisa mendaftarkan atm lewat smsbanking ataupun ibanking. Wah mudah dan sangat menghemat waktu serta tenaga. 

Belanja online memang mudah tapi juga harus piih-pilih situs maupun online shop, caranya yaitu :

  • Pilih situs terpercaya.  Carilah situs yang ternama dan jelas keberadaannya. Begitupun dengan online shop, cari tahu dulu kualitas dari online shop tersebut bisa dari testimoni orang-orang yang kita kenal dan pernah membeli disana. Bisa juga dengan mengikuti grup khusus jualbeli online shop. dengan begitu kita bisa memperoleh info-info yang valid tentang online shop. 
  • Baca syarat dan ketentuan dengan seksama. Di dunia online kunci utama yaitu membaca. Masuk grup online kita harus baca peraturannya, begitupun dengan online shop. Ada online shop yang mengharuskan transfer setelah dua jam booking, ada yang memberi waktu hingga 2 hari. Demi kenyamanan bersama baiknya hal seperti ini dipelajari dulu. 
  • Bandingkan dengan OS lain. Jika barang yang kita inginkan banyak yang menjual, tak ada salahnya membandingkan terlebih dahulu sebelum memesan. Ingat ya, sebelum memesan. Yup sebab jika sudah dipesan maka etika yang ada tidak memperbolehkan hal itu. Kita bisa di-blacklist oleh online shop tersebut dan ha ini juga dilarang dalam Islam. 
  • Manfaatkan promo atau diskon. Setelah kita bandingkan dengan OS ain, siapa tahu saja ada OS yang sedang sale dalam rangka ulang tahun, cuci gudang atau promo lainnya. Nah kalau sudah begini jangan sampai ketinggalan xixixi....



 
 tips jitu belanja online


Wah jadi gak sabar nunggu Hari Belanja Online Nasional pada tanggal 12 Desember nanti. Kebetulan sudah lama gak beli gamis eh dapat link ke hijup.com waw gamisnya cantik-cantik sekaliiii.... Diskonnya juga cukup menggiurkan!  Semoga saja banyak gamis-gamis dan aneka HijUp yang didiskon besar-besaran. 

Ssst... ini nih salah satu gamis yang saya taksir di hijup.com (semoga bisa kebeli... aamiin)


“Tulisan ini disertakan untuk giveaway #FAMILYTALK Annisa Steviani dan Istiana Sutanti bersama Hijup.com

Sukses selalu untuk duo mak cantik inih:

 

2015-12-05

Mau sekolah dimana Nada?

Belakangan ini aku sering ditanya oleh beberapa teman dan kenalan, “mau sekolah dimana Nada? Mereka berusaha mencari info mengenai SD yang bagus untuk anak-anaknya bersekolah. 

Nada, putri keduaku ini memang sudah dapat dipastikan tidak akan bersekolah di tempat yang sama dengan abangnya. Loh kenapa?

Nada, 5 tahun
Pertama, aku memang agak kecewa dengan pelayanan yang diberikan sekolah anakku di tahun ketiga ini. Kebijakan yang berubah, muatan pelajaran yang kurasa kurang hingga kurangnya perhatian dari guru. Kedua, biayanya sudah naik dua kali lipat sekarang ini. Dengan biaya yang mahal namun pelayanan menurun, rasanya sayang sekali kalau harus menyekolahkan Nada disitu. Putri keduaku ini memang sudah menunjukkan bakat menghapal Al Qur’an lebih baik dari abangnya. Sehingga rasanya sayang sekali kalau bakatnya itu tidak dibina dengan baik. 

Dan syukurlah sekarang ini, tepatnya sejak Juli lalu sudah berdiri sebuah sekolah baru yang secara konsep lebih kusukai. Ditambah dengan informasi yang diberikan tetanggaku yang anaknya sudah bersekolah disitu. Kabarnya disana lebih mengutamakan hapalan  Al qur’an, targetnya 1 juz 1 tahun. Terbukti anak tetanggaku yang baru bersekolah lima bulan disana tapi sudah mampu melampaui hapalan anakku yang sudah tiga tahun bersekolah (hapalannya sudah sampai Al Balad). Tidak hanya itu, tetanggaku juga bercerita kalau metode pengajarannya juga menarik. Pelajaran bahasa Inggris dan Arab juga menjadi unggulan, mengingat Syahdu hingga kelas tiga belum juga diberikan pelajaran bahasa Inggris. Eit tapi bukan berarti anak dijejali dengan banyak pelajaran, karena semua diberikan sesuai dengan porsinya dan dengan metode yang menyenangkan. Aku pun percaya karena sekolah ini dibina oleh ustadz-ustadzah yang memang mumpuni di bidangnya. Yang paling penting biaya masuk sekolah SDI Cahaya Qur’an masih terhitung murah apalagi boleh dicicil selama enam bulan.

Setiap orang tua tentu memiliki harapan yang baik untuk masa depan anak-anaknya. Aku pun berusaha mengusahakan yang terbaik untuk anak-anakku meski yang terbaik itu tak selalu yang termahal. Karena yang termahal nyatanya belum tentu yang terbaik. Aku percaya niat baik kami  dalam memilih sekolah untuk anak-anak akan menghasilkan sesuatu yang baik juga. Meski tak dapat ditepis bahwa biaya sekolah swasta tentunya jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan sekolah negeri yang telah digratiskan oleh pemerintah.  Namun anak adalah investasi terbaik yang kami miliki. Investasi itu kami harap dapat kami petik di akhirat nanti. Aku berharap anak-anakku menjadi orang-orang yang lebih baik saat dewasa nanti. Lebih berilmu, lebih berakhlak daripada kedua orang tuanya.  Bersekolah di sekolah swasta bukan demi gengsi tapi untuk tujuan-tujuan yang jauh lebih mulia.

Sepenggal kisahku bersama Ibu

Dua puluh tiga tahun yang lalu, saat itu usiaku sekitar delapan tahun,  aku terkulai lemas di atas sofa. Seminggu terakhir  itu aku memang merasa sakit di  pinggang bagian kiri dan kanan. Dan pagi itu sakitnya semakin tak tertahankan. Ibu sudah membawaku ke dokter tiga hari lalu. Obat yang diberikan juga sudah kuminum namun nyatanya sakitku malah bertambah parah. Ibu menduga sakit yang kuderita ini gejala usus buntu. 

Ibu dan bapak sudah berpakaian rapi hendak ke kantor.  Samar-samar kudengar percakapan mereka, ibuku berkeras ingin membawaku ke dokter pagi itu tetapi bapak bimbang dengan pekerjaannya. Bapak memutuskan tetap berangkat ke kantor. Aku hanya pasrah tak bisa berkata apapun karena jangankan untuk bicara bernapas pun terasa sulit dan menyakitkan. Lemah mataku memandangi wajah cantik ibu  yang diselimuti kabut kecemasan. Ibu bertanya apa yang kurasakan dan aku hanya mampu menjawab lirih, “sakit...” Hampir saja ibu hendak memanggil taksi untuk membawaku ke dokter namun rupanya bapak kembali ke rumah.
                                                   
          (ibu, aku dan adik-adikku (tahun 2000)
Dokter memastikan bahwa aku terkena usus buntu dan akan dioperasi siang itu juga. Ibuku menyiapkan segala keperluan termasuk memiih rumah sakit untukku dirawat. Alhamdulillah, operasi berjalan lancar. Ibu mengambil cuti untuk menemaniku selama dirawat, bergantian dengan tanteku.  Hingga kini aku merasa sangat bersyukur bahwa ibu membawaku ke dokter pada hari itu sehingga segala sakit yang kurasakan dapat hilang.

Ibuku memang seorang wanita karir yang tak setiap waktu dapat bersamaku. Meski begitu ia tetap ada disaat-saat kubutuhkan. Ia tetap menunjukkan perhatian dan juga kasih sayangnya kepadaku. Sepenggal kisah ini menjadi kenangan berharga untukku.
(tulisan ini diikutsertakan dalam GiveAway yang diselenggarakan oleh  http://rosimeilani.com/2015/12/04/ga-sejuta-kisah-ibu/)

Hadiah yang ingin kuberikan untuk ibu sebenarnya bouqet bunga karena ibu suka sekali bunga dan dulu aku sering membelikan buket bunga untuk ibu setiap ulang tahunnya. Tapi kalau tidak mungkin ya apa saja juga boleh :) 



Share