2015-01-19

Salah siapa? Komik Manga atau Orang Tua ?

Heboh berita seputar kejadian yang menimpa anak-anak belakangan ini memang cukup mengkhawatirkan. Setelah berita yang berkaitan dengan kejahatan seks pada anak kini ditambah adanya kejadian anak bunuh diri. Sebagai orang tua yang pernah jadi anak, saya memahami bahwa semua kejadian yang menimpa anak adalah dikarenakan apa yang dirasa, dilihat, didengar si anak tersebut. Tak bisa menyalahkan yang satu dan mengabaikan yang lain. Menurut saya, benar juga kalau menyalahkan komik manga. Dan juga tidak salah kalau orang tua harus introspeksi diri.

Ok soal komik manga, Mengapa saya bilang ada salahnya? Karena saya dulu juga penyuka komik manga dan saya pernah berpikir kalau bunuh diri situ sesuatu yang perlu dicoba. cuma gara-gara dimarahi sedikit oleh orang tua, saya sempat berpikir kalau saya tidak ada barulah mereka menyadari kehilangan saya. Tapi tentu saja, saya gak se-desperate dan ga se-serius anak tersebut dalam melakukan percobaan bunuh diri. Beruntunglah sekarang ini banyak buku edukasi yang lebih patut dibaca anak-anak sehingga anak saya tidak saya berikan komik manga. Si sulung Syahdu asyik sekali membaca buku seri pengetahuan "Aku Ingin Tahu Mengapa ...." terbitan Grolier. Boleh dibilang hampir seluruh aktivitas anak-anak terpantau oleh saya atau ayahnya atau kedua eyangnya. Saat mereka bermain, menonton, main game dan apapun yang dilakukan di rumah dan sekitarnya. Aktivitas diluar itu hanyalah sekolah.

Tadi saya sempat menyinggung soal peran orang tua dibalik alasan anak bunuh diri. Yup, anak-anak tentu tak setegar orang dewasa dalam menghadapi masalah. Orang dewasa pun terkadang juga merasa depresi, tertekan dan ingin hilang dari bumi bila menghadapi masalah yang berat, apalagi anak-anak? Dipermalukan orang tua di depan teman-teaman, dimarahi hanya karena pulang terlalu sore, diacuhkan tak pernah ditanya kegiatannya sehari-hari, tak ditemani pada momen-momen berkesan, menghadapi ketidakharmonisan orang tua atau hal lainnya yang membuat anak merasa tidak nyaman dan tertekan bisa menjadi pemicu pikiran untuk benar-benar hilang dari bumi.

Saya memilih menjadi orang tua yang sering bertanya tentang kegiatan anak-anak saya sehari-hari. Saya bertanya dengan detail dan tidak merasa puas dengan jawaban sekedarnya. Karena anak-anak suka menutupi yang dianggapnya rahasia. Misalnya saat saya bertanya pada Syahdu, "Tadi di sekolah ada kegiatan apa saja?", "Apa ada yang nakal sama abang?", "Apa abang nakal sama teman?", "Apa abang berantem sama teman?" Atau saat saya melihat Nada langsung pergi menjauh saat ada seorang anak tetangga melintas di depannya, saya langsung bertanya, "Kenapa kakak tidak mau main?", "Apa ada yang nakal sama kakak?", awalnya Nada cuma diam tapi akhirnya dia mengatakan alasan yang sebenarnya yaitu bahwa temannya tersebut suka memelototi dia dan berkata kasar. Tentu saja tak sampai disitu, saya perlu membangun rasa percaya diri dan memberikan solusi agar ia mampu membentengi dirinya dari perilaku yang tidak baik dari siapapun.   Pastinya tidak serta-merta langsung PD, tapi karakter itu perlu terus didorong.

Kembali soal perlakuan tidak menyenangkan orang tua pada anak, sebagai orang tua pasti saya pernah memarahi mereka. Tapi saya pastikan bahwa marah saya itu berdasar bukan pelampiasan. Alhamdulillah anak-anak mengerti meskipun bundanya marah namun tetap sayang kepada mereka. Biasanya selepas marah, saya memeluk dan memberitahu alasan saya marah sambil menasihati mereka baik-baik.

Ilmu agama adalah bekal yang sangat diperlukan bagi siapapun tak terkecuali anak-anak. Memberikan mereka pengetahuan agama merupakan upaya membentengi mereka dari hal-hal yang tidak baik. Do'a selalu menjadi senjata dan perlindungan yang paling ampuh dalam menangkal hal buruk apapun. Hanya pada Allah-lah kita memohon perlindungan, hanya Dia-lah sebaik-baik penjaga, Dia-lah yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui segalanya.

“Robbi hablii minash shoolihiin”

Artinya: "Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih." (QS. Ash Shaffaat: 100).

 "Rabbij'alnii muqiimash shalaati wa min dzurriyyatii rabbanaa wa taqabbal du'aai. Rabbanagh firlii wa liwaa lidayyaa wa lilmu-miniina yauma yaquumul hisab"

Artinya: "Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do'aku. Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab."(Q.S.Ibrahim:40-41)






“Robbi hablii minash shoolihiin”
[Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih]. (QS. Ash Shaffaat: 100).
- See more at: http://kaifahal.com/doa-meminta-keturunan-yang-shalih/#sthash.5ANv6gi5.dpuf
“Robbi hablii minash shoolihiin”
[Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih]. (QS. Ash Shaffaat: 100).
- See more at: http://kaifahal.com/doa-meminta-keturunan-yang-shalih/#sthash.5ANv6gi5.dpuf
 

2015-01-18

Me Time ?? Perlu ngga sih??

Saya tergelitik dengan postingan seorang teman FB tentang me time yang dianggap menyalahi syari'at oleh seorang Ustadz. Menilik dari pertanyaan yang diajukan penanya (yang ternyata seorang laki-laki) dan jawaban yang diberikan oleh sang Ustadz, nampaknya ada perbedaan persepsi mengenai me time itu sendiri dan pengertian me time yang dimiliki oleh sang Ustadz. Maksudnya gini, bisa jadi sang Ustadz ga paham kalau me time yang dimaksud itu cuma simple, kayak waktu untuk sekedar membaca buku, nge-blog, nge-teh dll. Karena yang ditanyakan si penanya itu contoh me time adalah hang out bareng temen tanpa suami dan anak serta aktivitas yang dilakukan istri sebelum menikah. Nah, ga nyambung khaann???!!

Kalau istri yang baik (seperti para pendaftar GA buku duetku :D) pastilah mikir 1000x buat hang out tanpa anak (kalau tanpa suami sih masih mungkin yaa, kan suami kerja). Apalagi kalau hang out-nya itu sampai nginap berhari-hari, liburan sendiri, hehe ga mungkin kaaannn?? Coba deh liat ibu-ibu komunitas FB kalau kopdar, pasti deh pada bawa anak. Secara kalau ibu-ibu itu suka banget mamerin anaknya wkwkwkwk.

Nah, kalau menurut saya me time itu ya perlu bangeett... Ngerasain banget deh yang namanya penat ngurusin tiga anak (dengan 1 bayi) plus berbagai kerjaan rumah tangga sampai ga keburu buat makan dan lupa minum, wewww. Well, kalau suami ada di rumah bolehlah sesekali tolong jagain anak 2 jam aja misalnya buat pergi ke salon di depan gang atau baca buku atau ngeblog atau ke bioskop bareng temen? Lebih bagus lagi kalau masih punya saudara dekat lainnya yang bisa diandalkan buat nitipin anak :D Bisa pergi berduaan deh sama suami, asik kan?

Alhamdulillah meski sudah punya anak tiga, saya masih bisa tidur 5-7 jam sehari, masih bisa nonton drakor kesayangan, masih bisa sesekali ke salon atau ngerujak bareng temen bahkan melakukan hobi saya bersama komunitas. Memang sih, jadinya ga perfek kerjaan rumah saya, misalnya kalau siang pastilah rumah itu dalam keadaan berantakan. Rapinya itu cuma pagi n sore. Trus saya juga jarang masak, karena kalau sudah masak ya ga sempet nyuci dan nyetrika. Kadang saya juga merasa 24 jam itu kurang banget buat saya, dan suka merasa hopeless dengan tumpukkan baju kotor, tapi ternyata kalau dikerjain perlahan tapi pasti ya selesai juga koq.

Alhamdulillah, suami mau dengan senang hati jagain anak-anak kalau saya lagi perlu me time. Dan kalau weekend, ada sepupu yang suka "nyulik" anak-anak ke rumah mereka. Belum lagi eyangnya yang juga sayang banget sama cucu-cucu semata wayang.

Pesen saya, waktu untuk tidur itu penting jangan kurang dari 5 jam deh. Soalnya kalau kurang tidur jadi kliatan di wajah dan jadi lebih sensi, kasian anak-anak kalau ibunya ngomel mulu. Hiruplah udara segar di pagi hari atau selepas hujan, hmmm segaaarrr! Me time saat anak tidur juga bisa koq. Apalagi sekarang sudah ada fasilitas medsos, jaman dulu punya anak 1 belum ada nih. Me time bareng anak juga bisa. Turunkan standar kerapihan rumah, supaya kita juga ga terlalu lelah. Kesehatan seorang ibu lebih penting dari apapun, jadi... makan yang bergizi dan tepat waktu ya bun...



Pemenang Give Away Buku "agar dicintai Suami Layaknya Sayyida Khadijah"

Sebelumnya saya mohon maaf karena tidak berkomunikasi dengan baik di blog ini. Tapi semua tulisan peserta sudah saya baca dan banyak menginspirasi saya. Karena banyaknya peserta saya sampai tidak sempat komen di masing-masing blog, hape saya suka nge-hang dan low batt. 
 
Pengumuman pemenang sudah saya sampaikan lewat facebook dan baru sekarang sempat saya upload disini (semoga saja ke depannya, saya lebih aktif nge-blog yaaa kayak ka Niar my soulmate).
 
Dan … inilah 6 pemenang GA Istri yang Baik:
Pemenang 1: Rhyantd, Bidadari Duniaku
Hadiah: Buku ADSLSK + gamis cantik + 1 buku dari saya + 1 bros corn craft cantik
Pemenang 2: 34. Edi Padmono, Keberuntunganku Adalah Menikahinya
Hadiah: Buku ADSLSK + 1 set buku Ippho (dari http://www.leadermymart.com/?id=Star01) + 1 bros corn craft cantik
Pemenang 3: Rina Susanti, Buah Keikhlasan Seorang Istri
Hadiah: Buku ADSLSK + mukena lukis + 1 buku dari penerbit BIP
Pemenang 4: Diena Rifa’ah, Menakar Standar Istri yang Baik
Hadiah: Buku ADSLSK + 2 buku dari penerbit BIP + 1 bros rajut cantik
Pemenang 5: Ade Anita, Semua Istri Baik, Hanya …
Hadiah: Buku ADSLSK + 1 sarung + 1 buku BIP
Hadiah: Buku ADSLSK + baju koko anak/remaja
Selamat kepada para pemenang. Diharapkan para pemenang mengirimkan data berupa alamat dan nomor telepon di alamat e-mail mugniarmarakarma[at]gmail[dot]com atau melalui inbox FB saya.
Kepada semua peserta yang telah berpartisipasi, sekali lagi saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya ya. Mudah-mudahan kami bisa menyelenggarakan kuis buku ini setelah ini. Pantau infonya di fan page Buku Agar Dicintai Suami Layaknya Sayyida Khadijah.

(InsyaAllah saya dan K Niar akan bikin kuis buku lagi di bulan Februari atau Maret, tunggu yaa... masih ada stock hadiah nih.)

2014-10-12

GiveAway Buku : Agar Dicintai Suami Layaknya Sayyida Khadijah

"Nabi shallallahu 'alaihi wassalam tidak pernah menikah lagi dengan perempuan lain untuk memadu Khadijah, kecuali setelah Khadijah meninggal dunia." (HR.Muslim).

Hadits ini menunjukkan salah satu keutamaan Bunda Khadijah yang dinikahi oleh Nabi Muhammad SAW selama 25 tahun dalam sebuah rumah tangga monogami yang sakinah mawaddah warrahmah. Dan setelah Bunda Khadijah meninggal barulah Nabi SAW melakukan pernikahan poligami (dengan berbagai kondisi penuh hikmah).

Keberadaan hadits ini cukup menghentak saya, karena baru sekali itu saya mengetahuinya saat saya mencari dalil-dalil mengenai keistimewaan Bunda Khadijah. Kata-kata di dalamnya semakin menyemangati saya untuk mencari tahu berbagai keistimewaan Bunda Khadijah di mata suaminya, manusia paling mulia di muka bumi ini. Hal apa saja yang mampu menjadi teladan bagi saya sebagai seorang istri untuk juga dapat diteladani oleh para muslimah lainnya. Dan juga hadits yang menyatakan janji Allah subhanahu wata'ala yang akan memberikan sebuah rumah mewah di syurgaNya kepada Bunda Khadijah. Kiranya amal apa saja yang telah dilakukan Beliau sehingga begitu dicintai oleh yang Maha Penyayang?

Bersama teman duet saya, Mugniar, buku ini kami persembahkan sebagai perantara kalamullah dengan disisipkan beberapa cerita nyata yang diharapkan dapat memberikan gambaran dan hikmah kepada para pembacanya.

Dan sebagai tanda syukur atas terbitnya buku ini, kami mengadakan beberapa kegiatan promosi buku berhadiah. Salahs satunya yaitu GiveAway buku Agar Dicintai Suami Layaknya Sayyida Khadijah (ADLSK). Caranya yaitu :

  1. Peserta boleh siapa saja (laki-laki atau perempuan, sudah nikah atau pernah nikah atau belum nikah), tinggal di mana saja tetapi memiliki alamat pengiriman hadiah di Indonesia.
  2. Yang belum memiliki atau pun sudah memiliki buku Agar Dicintai Suami Layaknya Sayyida Khadijah boleh mengikuti GA ini. Kalau sudah punya dan kemudian dapat hadiah buku ini kan bisa memberikan hadiah kepada karib atau kerabatnya yang baru nikah.
  3. Tuliskan perihal istri yang baik. Boleh berupa opini, pengalaman sendiri, ataupun pengalaman orang lain, boleh pula berupa esai dengan mengambil data dari sebuah/beberapa sumber dengan menuliskan sumbernya, tentunya ya.
  4. Panjang tulisan minimal 300 kata, panjangnya tidak dibatasi tapi jangan terlalu panjang ya supaya Kami tidak mumet membacanya hehehe.
  5. Tulisan di-posting di blog (bisa yang berplat form apa saja, termasuk Kompasiana).
  6. Yang tidak punya blog bisa ikut, dengan mem-posting di note facebook (tapi di-set public/publik ya) dengan menge-tag sekurang-kurangnya 10 orang teman facebook-nya. Setelah selesai, silakan daftarkan tulisannya di fan page buku Agar Dicintai Suami Layaknya Sayyida Khadijah: https://www.facebook.com/AgarDicintaiSuamiLayaknyaSayyidaKhadijah?ref=bookmarks sembari menginbox salah satu dari kami (khusus untuk peserta face book ya, jadi tidak perlu daftar di blog saya).
  7. Tulisan yang diikutkan boleh baru atau repost dari tulisan lama dengan mengubah tanggalnya menjadi tanggal yang berada dalam kurun waktu GA ini (perhatikan syarat waktu di bawah).
  8. Di akhir postingan, tuliskan kalimat: “Tulisan ini diikutkan Giveaway Istri yang Baik” (untuk peserta blog: dengan mengarahkan frasa “Tulisan ini diikutkan” ke postingan lomba ini dan frasa “Istri yang Baik” ke blog Vina di http://nadasyahdu.blogspot.com). Sedangkan untuk peserta facebook ditambah saja dengan kalimat: "dari Mugniar (pemilik blog http://www.mugniar.com) dan Vina (pemilik blog http://nadasyahdu.blogspot.com)". 
  9. Lalu setelah itu, sertakan gambar sampul buku Agar Dicinta Suami Layaknya Sayyida Khadijah.
  10. Like fan page Buku Agar Dicinta Suami Layaknya Sayyida Khadijah (https://www.facebook.com/AgarDicintaiSuamiLayaknyaSayyidaKhadijah?ref=bookmarks).
  11. Untuk peserta blog: mendaftarkan tulisannya pada kolom komentar di link ini (klik kata “link ini”). Mohon di link tersebut hanya untuk mendaftarkan tulisannya ya. Bila ada pertanyaan, silakan dituliskan di kolom komentar di bawah tulisan ini.
  12. Yang punya akun twitter, boleh nge-twit URL tulisannya dengan me-mention akun @Mugniar @NdaSyahdu @Penerbit_BIP, dengan hashtag #GABukuADSLSK, boleh juga dengan follow akun saya dan Mugniar (tidak wajib)
  13. Giveaway berlangsung mulai tanggal 13 Oktober sampai dengan 30 November (pukul 21.00 WIB).
  14. Juri dari tulisan-tulisan yang masuk adalah saya dan Mugniar. Pengumuman insya Allah pada tanggal 14 Desember 2014. Keputusan Kami tidak dapat diganggu gugat.

Hadiahnya ada ... ? Ada dooong, ini hadiahnya:

Hadiah-hadiah pemenang utama:

Hadiah 1 : Buku ADSLSK + gamis cantik + 1 buku + 1 bros corn craft cantik
Hadiah 2:  Buku ADSLSK + 1 set buku Ippho (dari http://www.leadermymart.com/?id=Star01 ) + 1 bros corn craft cantik
Hadiah 3 : buku ADSLSK + mukena lukis + 1 buku dari penerbit BIP.

Hadiah-hadiah pemenang harapan:

Hadiah 4 : Buku ADSLSK + 2 buku dari penerbit BIP + 1 bros rajut cantik
Hadiah 5 : Buku ADSLSK + 1 sarung + 1 buku BIP
Hadiah 6 : Buku ADSLSK + baju koko anak

Fayza Nida Khafiya

Sudah sebelas bulan kini usianya, ia adalah bayi perempuan manis, lucu dan menggemaskan sama seperti abang dan kakaknya terdahulu. Ya, alhamdulillah ketiga anakku terlahir dan tumbuh dengan sehat dan selalu menggemaskan alias chubby. Fiyya, panggilan untuk anakku yang ketiga, terlahir dengan cara yang agak berbeda dengan abang dan kakaknya.

Bermula dari kehamilanku yang juga diluar kebiasaan. Aku mendapati "flek" pada bulan ketiga kehamilanku. Diikuti dengan kontraksi beberapa kali, seperti kram perut yang menegangkan. Kala itu aku memang sedang sibuk menyiapkan akreditasi di sekolah. Kondisi ngidamku saat itu juga lumayan parah, jadi aku benar-benar mengeluarkan tenaga ekstra untuk berbagai aktivitasku. Ditambah lagi mengurus dua anak yang masih berusia enam dan tiga tahun.

Kalau saja itu tak terjadi padaku mungkin aku tidak akan percaya ada orang hamil yang ngidam seperti itu. Aku tidak bisa menelan air putih. Maksudnya aku bisa merasa mual bila meminum air putih atau air apapun. Hanya air kelapa muda  saja yang bisa kuminum. Makanan bersantan, makanan pedas kesukaanku tak lagi bisa kunikmati. Termasuk rujak yang biasanya diminati semua ibu hamil. Aneh bukan? 

Sesuatu yang tak pernah terjadi pada kehamilan pertama dan kdua, terjadi pada kehamilanku yang ketiga ini. Aku masih ingat, Pukul satu malam lebih sedikit, aku terbangun karena merasakan basah seperti ompol. Aku segera menuju kamar mandi untuk BAK. Namun apa yang terjadi? Air itu terus mengalir dan akupun tersadar, ini mungkin air ketuban, aku tidak bisa memastikan karena aku belum pernah pecah ketuban secara alami sebelumnya. Aku langsung memabngunkan suamiku, aku sungguh bersyukur karena suamiku ada malam itu (biasanya dia suka lembur). Tak lupa aku juga segera menelepon ibuku memintanya mengantarku dengan mobil. Untunglah, rumahku dan rumah ibuku berdekatan. Anak-anak yang sedang tertidur pulas ditunggui oleh tanteku. Kamipun bergegas ke Rumah Sakit Bersalin tempatku memeriksakan kandungan. Saat itu usia kandunganku baru duapuluh delapan minggu.



Aku berusaha untuk tidak cemas, tapi aku juga mulai berpikir bila bayiku harus dilahirkan lebih awal. Ibu bidan berusaha memberikan rangsangan agar aku bisa melahirkan secara normal. Namun tidak berhasil. Dokter kandungan datang di siang hari, dan menyatakan bahwa air ketubanku masih bisa dipertahankan hinga satu bulan lamanya, setidaknya mengulur waktu agar bayi yang dilahirkan dalam kondisi lebih siap untuk dilahirkan. Dokter memberikan berbagai obat penguat untuk bayiku dan aku. Akhirnya, setelah melalui perjuangan keras dan melelahkan, seorang bayi mungil terlahir melalui operasi caesar. Dengan berat 1.6kg ia lahir sebagai pemenang, ia lahir dengan sehat tanpa ada kekurangan suatu apapun. Semua ketakutan tentangnya, tenatang seorang bayi prematur yang lemah tidak terjadi. sungguh Allah telah memberikan anugerah dan pertolongan tiada tara. Meskipun aku menanggung sakit pasca operasi caesar.



Kerepotan mengurus bayi prematur hanya kami rasakan selama satu setengah bulan saja, setelah itu yang cepat tumbuh menjadi bayi-bayi yang seusianya. Betapa bahagianya saat melihatnya tumuh normal, tengkurap, merangkak dan berdiri. Perasaan yang kurasakan dalam hatiku dan juga ayahnya, sama bahagianya seperti saat kami menatap abang dan kakaknya saat bayi dahulu.


Ibuku tidak sayang padaku

Pertama, kedua ataupun ketiga bagi seorang ibu tiada bedanya. Perih rasanya bila mendengar ada seorang anak yang mengatakan, "ibuku lebih sayang pada kakakku daripada aku" atau "mamaku lebih sayang pada adikku."

Sejak menjadi seorang ibu yang melahirkan tiga anak, aku bisa menyanggah pernyataan itu. Takkan pernah seorang ibu bisa membeda-bedakan kasih sayangnya kepada buah hati yang sama-sama dilahirkan dari rahimnya sendiri dengan kepayahan yang sama. Seperti apa yang kurasakan kini, meski ketiganya memiliki ciri khas masing-masing dengan kelebihan dan kekurangannya, aku bisa memastikan bahwa kasih sayangku sama pada semua buah hatiku. Perbedaan itu letaknya pada prioritas. Tentu saja seorang ibu akan lebih memperhatikan adik bayi ketimbang kakak yang sudah berumur tujuh tahun dan seterusnya.

Beberapa siswi yang memiliki masalah di sekolah, sempat menjadikan hal ini sebagai alibi alasan dirinya berbuat pelanggaran di sekolah. Childish, tapi itulah remaja, mereka menjadi seperti anak-anak bila bicara soal perhatian. Sementara orang tua menganggap mereka bukan lagi anak kecil yang perlu diperhatikan sedemikian rupa. Orang tua berharap agar para remaja itu mampu mengurus diri mereka sendiri dan kalau bisa membantu pekerjaan orang tua di rumah. Meski di sisi yang berbeda, para remaja itu ingin diberi kebebasan layaknya orang dewasa. Komunikasi yang kurang baik bisa membuat masalah sepele seperti ini menjadi masalah besar yang mengakibatkan rusaknya hubungan orang tua dan anak.

Remaja, meskipun bukan lagi kanak-kanak, mereka tetap memerlukan perhatian khusus dari orang tua. Meminjam bahasa Aa Gym, bila kita sebagai orang tua berusaha memahami bahasa mereka saat bayi mengapa tak dapat pula kita lakukan ketika mereka sudah remaja? Bahasa mereka pun perlu untuk kita mengerti. Mereka tetaplah anak-anak kita sampai kapanpun.

Nah, aku berusaha menanamkan keyakinan pada siswi-siswi tersebut bahwa apa yang mereka pikirkan tentang orang tua mereka itu tidak tepat. Aku berharap mereka bisa memahami dan akhirnya bisa menemukan jati diri mereka dalam hal positif.

2013-10-25

Tawuran pelajar dan solusinya

Jum’at pagi saya disms oleh  Kepala Sekolah untuk menggantikannya menghadiri Rapat Kepala Sekolah di Aula Balaikota Depok pda pukul 14.00. Dalam sms itu dipesankan agar membawa materai 6000, “wah ada apa ya? Apa ada bantuan untuk sekolah nih?” pikir saya. Sesampainya disana saya langsung menuju meja registrasi. Ternyata materai 6000 tersebut digunakan untuk mengisi surat  pernyataan yang isinya adalah bahwa sekolah bertanggung jawab terhadap kegiatan tawuran maupun penyalahgunaan narkoba yang dilakukan siswa, jika tidak maka ijin operasional sekolah maupun ijin memimpin Kepala Sekolah akan ditinjau ulang. Saya membaca surat pernyataan ini berulang-ulang dan saya rasa isinya terlalu berat dan kurang detail tentu saja. Mengapa? Pertama, banyak hal yang mampu memicu tawuran yang terkadang sekolah sulit mengendalikan para siswanya apalagi sekolah yang memiliki ratusan siswa. Masalah sepele seperti rebutan pacar, rebutan naik angkot bisa memicu tawuran. Kedua, tawuran biasanya dilakukan selepas pulang sekolah dimana pastinya siswa sudah berada diluar jangkauan pihak sekolah. Apalagi yang berhubungan dengan narkoba yang lebih bersifat individual. Di sekolah kelihatannya anak yang pendiam tapi ternyata ketahuan mengonsumsi narkoba saat berada di rumah teman yang berbeda sekolah. Itulah hal-hal yang saya rasa cukup berat. Meskipun begitu, bukan berarti juga sekolah dapat lepas tangan.  Sekolah tetap harus meningkatkan kualitas pendidikan dari segi muatan agama dan kedisiplinan. 

Permalink gambar yang terpasang
Rapat di Walikota, saya ada di deretan kiri (kelihatan jilbab marunnya saja)

Nah ternyata rapat hari ini adalah untuk menandatangani surat pernyataan tersebut sekaligus mendapatkan pengarahan dari Walikota Depok yaitu Bapak Nur Mahmudi Ismail dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok. Mengenai peristiwa tawuran ini Bapak Walikota memberikan usul agar seragam sekolah yang dikenakan para siswa di semua sekolah di seluruh Indonesia terutama Depok disamakan. “Judulnya Pelajar Indonesia”, demikian usul Bapak Walikota. Dua orang peserta yang sempat menyampaikan uneg-unegnya menyatakan tidak setuju dengan usul tersebut. Begitupun dengan saya. Sebab, masalah tawuran bukan karena iri dengan seragam yang dipakai oleh sekolah lain. Seperti yang dilansir okezone mnegenai pengakuan para saksi  tawuran, “Masalahnya biasa saja, sering ledek-ledekan, kalau anak Wira Buana lewat atau Izata lewat, teman - teman kami suka diludahin, ini baru pertama kali kejadian begini, kesal juga sih," ungkapnya.

Memang, dengan adanya seragam, orang jadi bisa mencirikan asal sekolah dari siswa tersebut. Namun perlu juga diingat, bila kejahatan sudah direncanakan maka apapun bisa dilakukan. Meski seragamnya sama maka musuh dapat mengenali musuhnya. Repotnya malah saksi mata menjadi sulit mengenali pelaku. Bila masih berseragam sekolah tentu pelaku menjadi lebih mudah dikenali. Alhasil Bapak Walikota menjanjikan perlunya Rakor khusus untuk membahas kesepakatan ini lebih lanjut.  
Saya setuju dengan usulan yang ini, sebab ada banyak hal yang menjadi pemicu tawuran maupun hal-hal indisipliner yang dilakukan para siswa menurut versi saya, diantaranya adalah:

Kurang perhatian dari Pihak Sekolah maupun Yayasan

Sekolah-sekolah yang kebanyakan swasta yang para siswanya sering menjadi pelaku tawuran, terutama di Depok, saya perhatikan memang kurang mendapat perhatian dari Yayasan yang menaungi sekolah tersebut. Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang seharusnya lebih kepada pengabdian kepada masyarakat menjadi sebuah bisnis komersil.  Tak sedikit sekolah yang mau menampung siswa bermasalah  yang telah dikeluarkan dari sekolah lain karena kekurangan murid.   Yayasan hanya peduli dengan kuantitas siswa tanpa meningkatkan kualitas pendidikan. Misalnya bagaimana yayasan mampu memilih Kepala Sekolah yang mampu memanajemen sekolah dengan baik dan merekrut guru-guru yang mampu mendidik serta mengajar dengan baik.  Bukan asal comot semata. Kemudian bagaimana Yayasan mampu memberi penghargaan dalam hal kesejahteraan kepada guru-guru berprestasi. Jika semua sekolah  visi dan misi yang sama dalam hal kedisiplinan  dan perbaikan akhlak tentunya tidak ada lagi pelaku tawuran yang masih berkeliaran di sekolah-sekolah. Oknum siswa pelaku tawuran tidak mendapat tempat di sekolah manapun. Hal ini akan memberikan efek jera sekaligus menjadi pelajaran bagi siswa lainnya agar tidak ikut-ikutan aksi tawuran yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.

Tidak ada tindak lanjut dari pelanggaran tata tertib sekolah, kurang disiplin

Tata tertib yang kurang ketat dan juga tindak lanjut dari pelanggaran yang dilakukan para siswa sering diabaikan pihak sekolah. Sehingga para siswa merasa “nyaman” berlaku bebas di sekolah. Secara kasat mata bisa dilihat dari cara para siswa tersebut mengenakan seragm sekolah. Sekolah dengan disiplin tinggi dan ketat dalam menjaga tata tertib akan terlihat dari siswa yang berpakaian seragam rapi sesuai ketentuan sekolah. Sebaliknya, sekolah yang asal-asalan dalam mendidik makan akan terlihat pada cara berpakaian siswa yang jauh dari kesan rapi, baju dikeluarkan, celana dikecilkan, dipotong hingga sebetis bagi siswa lak-laki kemudian siswinya menggunakan rok pendek di atas dengkul dan berbaju kecil.  Kemudian perhatian guru terutama wali kelas terhadap anak didiknya di kelas bisa dilihat dari bagaimana guru tersebut menindaklanjuti siswa yang terlambat dan bolos sekolah. Sudahkah para guru melakukan homevisit sebagai salah satu cara bentuk komunikasi dengan orang tua? Karena banyak orang tua yang tidak tahu bila anaknya ternyata tidak sekolah. Para orang tua dipamiti anak setiap pagi, memberi uang transport, memberi uang jajan bahkan uang SPP. Tapi ternyata sang anak tidak sampai di sekolah. Entah main ke rumah teman, mampir ke warnet bermain PS, tawuran, narkoba atau pacaran. Jika tindak lanjut segera dilakukan oleh pihak sekolah maka guru dan orang tua dapat segera mencari solusi yang terbaik bagi sang anak dan anak pun dapat terselamatkan. Namun bagaimana bila sekolah seakan cuek dengan segala pelanggaran yang dilakukan siswa? Maka yang terjadi aadalah siswa merasa tidak diperhatikan dan merasa bebas dalam melakukan sesuatu. Dalam hal tawuran seringkali yang menjadi otak dari tawuran hanyalah 1-2 orang saja, selebihnya hanyalah ikut-ikutan. Istilangnya geng atau solidaritas sesama teman. Anak-anak remaja yang tidak memiliki kepercayaan diri, masih mencari jati diri inilah yang menjadi korban sehingga menjadi pelaku tawuran.  Belum lagi bila tawuran terjadi turun-temurun atau istilahnya musuh bebuyutan. Kakak kelas mendoktrin adik kelasnya mengenai sekolah yang menjadi musuh bebuyutan sekolah mereka. Padahal bisa jadi, siswa yang bersekolah di sekolah musuh dulunya adalah teman lama atau tetangganya.

Persaingan tidak sehat antar sekolah

Persaingan tidak sehat antar sekolah juga semakin nampak. Menjamurnya sekolah-sekolah terutama pada tingakt SMK memperlihatkan persaingan tidak sehat. Sekolah-sekolah baru yang hanya memedulikan kuantitas tidak melakukan seleksi saat Penerimaan Siswa Baru kemudian peraturan sekolah bersifat fleksibel. Guru-guru bersikap acuh tak acuh apalagi Kepala Sekolah yang tak jarang asal comot saja. Sekolah bersaing bukan dengan menunjukkan kualitas yang dimiliki setiap sekolah namun lebih kepada nominal harga biaya masuk sekolah. Dan juga imej yang tampil adalah sekolah yang mudah, sekolah yang gampangan sampai sekolah buangan. Apa tuh sekolah buangan? Sekolah yang mamu menampung para siswa yang dianggap buangan dari sekolah lain. Kalau sekolah gampangan, sekolah yang meskipun siswanya jarang masuk tapi masih bisa tetap naik kelas bahkan lulus sekolah.   

Menurut saya ada beberapa cara atau  solusi mencegah tawuran dan kegiatan indisipliner siswa yang dapat dilakkan oleh guru maupun orang tua, yaitu:

Menanamkan agama dan kedisiplinan sejak dini

Perilaku buruk di masa remaja bisa saja disebabkan kesalahan orang tua maupun guru saat siswa masih berada di sekolah dasar.  Tidak semua orang tua memiliki pemahaman agama yang baik dan tidak semua orang tua mengetahui cara mendidik yang baik. Namun sebagai orang tua yang peduli dan bertanggung jawab sudah seharusnya kita mampu mencurahkan perhatian dan kasih sayang kepada anak-anak yang kita lahirkan. Menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik seperti bersikap jujur, bersikap sportif mau mengakui kesalahan, mengalah dengan saudara dan teman, menjauhi perkelahian dengan teman. Kemudian disiplin beribadah, disiplin dalam belajar dan lain-lain. Sementara seolah dasar jug perlu mengadakan perbaikan dalam hal mendidik. Lihat saja, sekarang ini para siswa kelas 1 sudah harus bisa membaca dan menulis. Padahal dulu, pada saat duduk di sekolah dasar lah saya baru diajarkan membaca dan menulis. Masih terkenang dalam ingatan saya akan kesabaran Ibu Muji, guru SD saya dahulu, mengajarkan membaca kepada saya dan teman-teman. “Ini budi, Ini Ibu Budi, ......” Saya juga bersekolah TK tapi tidak diajarkan membaca. Kebanyakan guru SD terima jadi dari guru TK, dan parahnya mereka tidak memiliki sediitpun kesabaran. Ada seorang anak tetangga saya yang tidak naik ke kelas dua karena belum bisa membaca. Sementara sang guru hanya menyerahkan kepada orang tua yang notabene buruh rendahan yang manalah bisa mengajar anaknya di rumah. Belum lagi kurangnya muatan agama khususnya di sekolah-sekolah dasar  umum. Pekerjaan rumah anak sekolah dasar sama banyaknya dengan kesulitan yang setara sewaktu saya duduk di bangku SMP. Anak-anak sekolah dasar itu merasa terkekang, tertekan dengan pelajaran sekolah yang banyak dan sulit. Guru dan orang tua hanya bisa menuntut tanpa bisa mengarahkan, mengatur jadwal belajar apalagi memahami kesulitan anak-anak.

Menegakkan tata tertib dan disiplin sekolah

Mulai dari masuk sekolah tepat waktu dan memberikan sanksi yang mendidik bagi siswa yang terlambat maupun alpa. Lalu memperhatikan kerapian siswa mengenakan seragam. Melakukan pemeriksaan mendadak secara berkala terhadap siswa dengan memeriksa isi tas mereka. Apakah berisi hal-hal yang dilarang untuk dibawa sekolah hingga isi dari ponsel mereka.   Dalam beberapa kali inspeksi saya pernah menemukan percakapan sms tidak sewajarnya anatar siswa dengan pacarannya hingga video-video yang belum pantas disaksikan oleh para siswa.

Memberikan perhatian khusus pada siswa bermasalah

Bila akhirnya menemukan siswa yang bermasalah maka perlul dilakukan tindakan yang bukan selalu berupa hukuman. Guru dapat menanyakan atau melakukan wawancara dengan siswa tersebut mengenai alasannya melakukan pelanggaran tersebut. Memberikan pengarahan dan pengertian sehingga diharapkan perbuatan tersebut tidak diulanginya kemudian hari. Memberinya sanksi mendidik yang tidak merendahkan siswa tersebut di hadapan teman-temannya. Bila pelanggaran dilakukan lebih dari 3x maka guru perlu berkomunikasi dengan orang tua. Kerjasama yang baik antara guru dan orang tua tentu akan membuahkan asil yang baik.

Memberikan pujian dan penghargaan kepada siswa berprestasi

Berprestasi bukan selalu harus rangking 1, kepada siswa yang bermasalah namun mampu memperaiki sikapnya, guru juga perlu memberikan apresiasi. Misalnya , “wah Anto sekarang kamu sudah rajin masuk ya bagus ibu jadi senang” atau “ sepertinya ibu lihat ada anak baru ya di kelas ini? Yang mirip vokalis band ternama itu loh.... wawan kamu kan jadi lebih ganteng kalau rabut dan berseragam rapi seperti itu.” Karena siswa bermasalah sebenarnya bukan anak-anak nakal. Bila ditangani dengan cepat dan benar insyaAllah mereka bisa menjadi anak-anak yang baik. Ini sudah terjadi pada dua orang murid saya yang sempat menguji kami para gurunya dengan bolos sekolah beberapa kali di semester pertama namun memiliki perkembangan sikap yang baik di semester selanjutnya.
Di sekolah lanjutan semisal SMP/SMA/SMK guru dapat menyisipkan nilai-nilai moral saat mengajar. Misalnya dengan menampilkan video-video seperti video kisah pengorbanan seorang ibu,  video yang mengajarkan kejujuran dan lain-lain. Bisa juga dengan menyampaikan ayat-ayat Al Qur’an maupun kisah-kisah religius yang dapat menjadi teladan bagi siswa. Kemudian setiap guru memantau perkemangan perilaku siswa. Program tadarus Al Qur’an dan sholat berjamaah juga perlu dilakukan. Dengan begitu siswa menjadi lebih dekat dengan agama. Pernah juga saya temukan ada siswa yang lupa dengan kalimay syahadat dan lupa cara sholat bahkan belum bisa membaca Al Qur’an. Alhamdulillah sekarang siswa tersebut sudah lebih baik.
 
Variasi Metode belajar

Ada banyak metode belajar yang bisa dilakukan guru tidak melulu ceramah. Pemberian nilaipun tidak sebatas tes tertulis semata. Untuk pelajaran IPA misalnya, siswa bisa diajak keluar halaman sekolah untuk memperhatikan tanaman maupun sampah yang ada sesuai dengan tema pelajaran. Guru IPAs dapat mengajak siswa ke pasar untuk memperhatikan kegiatan anatar penjual dengan pembeli. guru harus lebih kreatif dalam menyampaikan pelajaran. Tidak selalu harus dengan fasilitas yang lengkap dan mewah. Lingkungan dan alam dapat menjadi laboratorium gratis dan lengkap bagi siswa.


Mengarahkan anak sesuai minat dan bakatnya

Anak-anak memiliki cita-cita tersendiri dalam hidupnya yang mungkkin saja tidak sama dengan harapan orang tua. Sebagai orang tua sebaiknya memberikan pandangan dan araan mengenai cita-cita tersebut. Karena yang menjalani sekolah adalah anak, bila tidak sesuai dengan minat dan bakatnya jhawatir akan menjadi kendala dan hambatan baginya berprestasi di sekolah bahkan buruknya dapat menjadi alasan bagi anak untuk mencari pelarian atas tekanan dari orang tua.

Kegiatan ekstrakurikuler sebagai penyaluran kegiatan bakat siswa juga menjadi salah satu solusi yang baik. Namun perlu diwaspadai juga dalam mengikutkan siswa ke perlombaan-perlombaan antar sekolah. Bila tidak diiringi sikap sportif maka bisa memicu tawuran juga.

Anak jaman sekarang memang lebih sulit diatur tapi bukan berarti orang tua tidak dapat mengarakan dan memilihkan sekolah yang baik bagi anak. Dengan diskusi dan komunikasi yang baik antara orang tua dan anak insyaAllah anak dapat memahami alasan orang tua memilihkan sekolah yang baik untuknya. Sebab anak-anak sering hanya mengikuti temannya sajatanpa memperhatikan apakah sekolah tersebut berkualitas baik atau tidak. Sementara orang tua mampu melihat dan mencari informasi mengenai kualitas dan keunggulan sekolah tersebut. Tentu saja dengan tetap memperhatikan minat dan bakat anak. Pilihlah sekolah yang disiplin, religius, memilii imej positif dan guru-guru yang ramah. Begitulah ayah saya memilihkan sekolah untuk saya dulu. Dan ternyata memang sekolah seperti itu mampu membentuk karakter yang baik.

(sebenarnya masih banyak yang ingin saya tulis, tapi anak saya sudah tidak sabar nih...ganggguin terus )


Share