2013-04-19

Perjuangan Berakhir Bahagia

Tak terasa usia pernikahan kami sudah menginjak tahun keenam. Selama enam tahun perjalanan ini pasang surut rumah tangga boleh dikatakan telah kualami. Pernikahan kami yang diawali dengan perjuangan cukup melelahkan dan menguras air mata. Banyak juga teman yang meledekku untuk segera membuat novel perjalanan cinta kami :D Alhamdulillah berakhir happy ending :)

Syukur sajalah yang bisa kupanjatan kepada Allah yang telah menyatukan cinta kami dalam sebuah mahligai rumah tangga nan indah ini. Kehadiran anak-anak yang lucu dan menyejukkan pandangan adalah salah satu faktor penguat cinta diantara kami. Masih jelas kuingat reaksi suamiku saat mengetahui kehamilan pertamaku, ia sangat bahagia sekali. Meski kehamilan pertama itu sempat membuatku shock karena mual yang begitu hebatnya namun kebahagiaan yang terpancar jelas di mata suamiku membuat rasa sakit ini sirna perlahan tapi pasti. Dua kali melahirkan, dua kali pula  suamiku selalu mendampingi proses persalinanku. Untunglah dia adalah seorang lelaki yang mampu melihat semua proses itu, yang bahkan kalau aku sendiri yang menyaksikannya mungkin tak akan sanggup. Dua kali itu pula Allah selalu berkenan mengabulkan harapanku. Setiap kali akan melahirkan, aku selalu merasa perlu didampingi suamiku, sepertinya aku tidak akan sanggup melahirkan kalau ia tidak ada di sampingku memberiku kekuatan. Misalnya saat anak kedua, dimana mulas yang kurasakan berlangsung di jam kerja suamiku yaitu sekitar pukul 12 siang. Prediksi kelahiran akan berlangsung pada pukul 6 sore. Jadilah aku menunggu suamiku datang, berkali-kali kutelepon dia agar segera datang. Sore itu hujan begitu lebat, suamiku datang dalam keadaan basah kuyup. Mulas ini sesunguhnya sudah tak tertahan lagi, namun aku menahannya hingga suamiku selesai berganti baju. Seketika suamiku datang, langsung kuminta dokter untuk segera melakukan proses persalinan. Dan benarlah tak lama adzan magrib berkumandang, lahirlah anak kedua kami sang putri nan cantik jelita. Suamiku tak segan membersihkan pakaianku yang terkena noda darah hingga mendapat pujian dari seorang pasien yang lain.


aku dan suamiku

Boleh dibilang suamiku cukup romantis. Pernah suatu kali aku merasa kesepian ketika suamiku begitu sibuk dengan pekerjaannya. Tanpa sempat aku mengeluh, ia sudah lebih dulu meminta maaf dan memperbaiki manajemen waktunya. Mengajakku pergi menonton bioskop hingga makan malam, ah romantisnya... Hal romantis lainnya adalah saat ia selalu mengucapkan terima kasih di setiap harinya kepadaku. Padahal akulah yang seharusnya juga berterima kasih padanya. Akupun  sangat bersyukur bahwa badai hebat yang sempat menerpa telah dapat kami lewati. Apapun itu telah mengajarkan kepada kami tentang pentingnya saling menguatkan satu sama lain. (Love you so much, my lovely husband)

Happy Wedding Anniversary ke-8 untuk mba Naqiyyah syam dan suami, semoga sakinah mawaddah warrahmah hingga akhir nanti. Aamiin.....


Tulisan ini diikutkan dalam GiveAway 8 tahun menggapai samara Naqiyyah Syam.http://cerpeneddelweissnaqiyyah.blogspot.com/2013/04/give-away-anniversary-ke-8-naqiyyah-syam



4 komentar:

  1. Aihhh fotonyaa kereenn bangett, senang yaa melahirkan ditungguin suami! Koq ceritanya gak lengkap,sampai penasaran dengan badai hebatnya dehh.. Ok, semoga suskes dan bahagis selalu dik!

    BalasHapus
  2. Makasih mba triana, itu foto pasca akad nikah ;) Tentang badai hebat, hmm ada deh postingannya dg judul berbeda, lagian kepanjangan jadinya, bawaan pengen nangis aja klo nulis soal itu :)

    BalasHapus
  3. subhanallah semoga samara juga keluarganya ya, mbk

    BalasHapus
  4. Keren, setia hari mengucapkan terima kasih. :)

    BalasHapus

Komentar baik berupa kritik maupun apresiasi baik yang sopan amat saya nantikan, terima kasih telah singgah di blog ini :)

Share